DIKTAT
STRATEGI BELAJAR MATEMATIKA
DISUSUN
OLEH:
Nama: DEA NINDRIA IMANSARI
NPM: 111 300 32
KELAS: 1A- MIPA
PENDIDIKAN MATEMATIKA/MIPA
DOSEN PENGAMPU :
HARYANTO M.Si
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2011
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2011
BAB 1
LATAR BELAKANG
- Pendahuluan
Didalam suatu proses belajar mengajar
tercangkup komponen, pendekatan, dan berbagai metode mengajaran yang
dikembangkan dalam proses tersebut. Tujuan utama diselenggarakan proses belajar
adalah demi terapainya tujuan pembelajaran. Dan ujuan tersebut salah satunya
adalah keberhasilan siswa dalam belajar dalam rangka pendidikan baik dalam
suatu mata pelajaran maupun pendidikan pada umumnya. Jika guru terlibat
didalamnya dengan segala macam metode yang dikembangkan maka yang berperan
sebagai pengajar berfungsi sebagai pemimpin belajar atau fasilitator belajar,
sedangkan siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar.
Usaha-usaha guru dalam proses tersebut utamanya adalah membelajarkan siswa agar
tujuan umum maupun tujuan khusus prooses belajar itu tercapai.
- Pengertian
Strategi Belajar Mengajar adalah
pola-pola umum kegiatan guru - anak didik dlm perwujudan kegiatan belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan mempelajari Strategi Belajar Mengajar
berarti setiap guru mulai memasuki suatu
kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi
antara guru dengan anak didik. Interaksi yg bernilai edukatif dikarenakan
kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan
tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar
merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dgn memanfaatkan segala
sesuatu guna kepentingan pembelajaran. Sehingga bahan pelajaran yang disampaikan
guru dapat difahami dan diaplikasikan siswa dengan tuntas.
C. Tujuan Pembelajaran
Umum:
Agar mahasiswa/calon guru/guru memahami
berbagai strategi belajar mengajar serta mampu memilih dan melaksanakan
strategi belajar mengajar.
Khusus:
- Membekali mahasiswa teori-teori, konsep-konsep strategi belajar mengajar
- Membekali mahasiswa teknik-teknik yang dipergunakan dalam strategi belajar mengajar
- Membekali mahasiswa agar memiliki sikap kritis terhadap pemikiran, teori dan fenomena dalam interaksi belajar mengajar, serta mampu menganalisisnya.
- Mahasiswa dapat mendeskripsikan konsep pembaharuan dalam cara belajar mengajar, dan pengembangan paradigma baru pendidikan
- INTERAKSI DIDALAM KELAS
Pada hakekatnya belajar metematika
adalah berfikir dan berbuat atau mengerjakan matematika. Disinilah makna dari
strategi pembelajaran matematika adalah strategi pemblajaran aktif, yang
ditandai oleh dua faktor yaitu:
a. Interaksi
optimal antara seluruh komponen dalam proses belajar mengajar, di antaranya
antara dua komponen utama yaitu guru dan siswa.
b. Berfungsi
secara optimal seluruh “sense” yang meliputi indera, emosi, karsa, karya, dan
nalar. Hal itu dapat berlangsung antara lain jika proses itu melibatkan aspek visual, audio,
maupun teks.
- PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, dan MENYENANGKAN
PROSES
PEMBELAJARAN
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang
memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk
membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran,
(2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran;
(5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut adalah penjelasannya.
1.
Pendekatan
Belajar
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis
pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat
pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan
pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi
pembelajaran.
Newman dan Logan
(Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap
usaha, yaitu :
- Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
- Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
- Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
- Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita
terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
- Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
- Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
- Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
- Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
2. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien Kemp (Wina Senjaya,
2008) . Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya
(2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna
perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual
tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian,
yaitu: (1) exposition-discovery learning dan
(2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara
pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi
pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi
pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya
digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi
merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode
adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi;
(5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9)
simposium, dan sebagainya.
3. Metode Pembelajaran
metode
pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan
demikian,teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan,
penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak
membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan
penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian
pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda
pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong
pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam
koridor metode yang sama. Beberapa metode mengajar :
1. Metode
Ceramah
Yang
dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam
pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan
alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara
pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah
mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan
oleh pengajar.
2. Metode
Tanya Jawab
Dalam
penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang
senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup
pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar
yang serupa ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah :
metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode itu terletakdalam :
1) Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru.
Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.
metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode itu terletakdalam :
1) Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru.
Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.
2) Sifat pengambilan
bagian yang diharapkan dari pihak siswa
Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.
Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab.
Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas
1. Melanjutkan pelajaran yang lalu
2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.
Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab.
Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas
1. Melanjutkan pelajaran yang lalu
2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
3. Memimpin pengamatan
atau pemikiran siswa
Kelebihan metode tanya Jawab :
1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.
3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.
Kelemahan metode tanya Jawab:
1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
2. Membutuhkan waktu lebih banyak.
Kelebihan metode tanya Jawab :
1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.
3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.
Kelemahan metode tanya Jawab:
1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
2. Membutuhkan waktu lebih banyak.
3. Metode
diskusi
Metode
diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada
suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi
dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau
pendapat yang disepakati bersama.
Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:
Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:
a.memanfaatkan berbagai
kemampuan yang ada pada siswa
b.memberi kesempatan
pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya
c.mendapatkan balikan
dari siswa apakah tujuan telah tercapai
d.membantu siswa
belajar berpikir secara kritis
e.membantu siswa
belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman
f.membantu siswa
menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran
sekolah
g.mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
Kegiatan siswa dalam
pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:
a.Menelaah topik/pokok
masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik
kepada kelas.
b.Ikut aktif memikirkan
sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan
lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan.
c.Mengemukakan pendapat
baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama
teman sebangku atau sekelompok.
d.Mendengar tanggapan
reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.
e.Mendengarkan dengan
teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok
lain.
f.Menghormati pendapat
teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.
g.Mencatat sendiri
pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun
bertentangan.
h.Menyusun
kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
i.Ikut menjaga dan
memelihara ketertiban diskusi.
j.Tidak bertujuan untuk
mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar
yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.
4. Metode
demonstrasi
Metode
demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses
kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat –
alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat –
alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling
pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi
proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan
objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan
konsep serta fakta yang memungkinkan.
5. Metode
karyawisata / pengalaman kerja
Metode
karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari
materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas
dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi
karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan
persiapan yang tidak sebentar.
6. Metode
penugasan
Pembelajaran
dengan menggunakan metode penugasan berarti guru memberi tugas tertentu agar
siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat berupa
masalah yang harus dipecahkan dan prosedurnya tidak diberitahukan. Metode
penugasan ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, merangsang untuk belajar
lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan
mencari dan mengolah sendiri informasi. Kekurangan metode ini terletak pada
sulitnya mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri
7. Metode
ekspermen laboratorium
Metode
eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan
melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada
hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan
sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa.
Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran
dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.
Beberapa
saran untuk mengadakan eksperimen. 1. Menerangkan sejelas-jelasnya
tujuan-tujuan pelajaran pada siswa, sehingga siswa mengetahui pertanyaan yang
perlu dijawab dengan eksperimen. 2. Membicarakan bersama dengan siswa prosedur
atau langkah-langkah yang dianggap sebaik-baiknya untuk memecahkan rnasalah
dalam eksperimen, serta bahan-bahan yang diperlukan, variabel yang perlu
dikontrol dan hal-hal yang perlu dicatat. 3. Menolong siswa untuk memperoleh
bahan-bahan yang diperlukan. 4. Setelah eksperimen selesai siswa membandingkan
hasilnya dengan hasil eksperimen orang lain dan mendiskusikan bila ada
perbedaan-perbedaan atau kekeliruan-kekeliruan.
8. Metode
bermain peran / simulasi
Pembelajaran
dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah
berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu
konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga
akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu
lama.
4. teknik pembelajaran
Definis
Teknik Pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode
ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik
tersendiri.
Beberapa teknik pembelajaran :
a. Teknik Menjelaskan
Menjelaskan merupakan salah satu bagian penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena teknik ini sangat perlu dikuasai guru, namun dengan guru senantiasa membatasi diri agar tidak terjebak ke ceramah murni yang menghilangkan peranan siswa kecuali hanya mendengarkan atau bahkan hanya mendengarkan yang dikemukakan guru.
b. Teknik Bertanya
Ada pepatah dalam pengajaran: “Question is the heart of the teaching”, artinya “Pertanyaan adalah jantungnya pengajaran”. Dengan demikian, pengajaran tanpa bertanya adalah pengajaran yang gersang. Untuk menggunakan tanya jawab, perlu diketahui tujuan mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik mengajukan pertanyaan.
c. Diskusi
Teknik diskusi perlu dikembangkan sebagai salah satu bentuk kegiatan yang menunjang pada keterampilan hidup (life skill) yang berkaitan dengan kemempuan umum yang harus dimiliki setiap warga masyarakat, karena life skill itu lebih berfokus pada pengembangan kemampuan siswa untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial, dan keterampilan-keterampilan hidup lainnya dalam masyarakat.
d. Penemuan Terbimbing
Dalam menggunakan metode penemuan terbimbing, peranan guru adalah menyatakan persoalan, kemudian membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan lembar kerja. Siswa mengikuti petunjuk dan menemukan sendiri penyelesaiannya. Penemuan terbimbing biasanya dilakukan dengan bahan yang dikembangkan pembelajarannya secara induktif. Guru harus yakin benar bahwa bahan yang ditemukan sungguh secara matematis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
e. Pemecahan Masalah
Sebagian besar ahli pendidikan matematika mengatakan bahwa masalah merupakan pertanyaan yang harus dijawab atau direspon. Mereka menyatakan juga bahwa tidak semua pernyataan otomatis akan menjadi masalah. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh pelaku.
5. Taktik Pembelajaran
Menjelaskan merupakan salah satu bagian penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena teknik ini sangat perlu dikuasai guru, namun dengan guru senantiasa membatasi diri agar tidak terjebak ke ceramah murni yang menghilangkan peranan siswa kecuali hanya mendengarkan atau bahkan hanya mendengarkan yang dikemukakan guru.
b. Teknik Bertanya
Ada pepatah dalam pengajaran: “Question is the heart of the teaching”, artinya “Pertanyaan adalah jantungnya pengajaran”. Dengan demikian, pengajaran tanpa bertanya adalah pengajaran yang gersang. Untuk menggunakan tanya jawab, perlu diketahui tujuan mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik mengajukan pertanyaan.
c. Diskusi
Teknik diskusi perlu dikembangkan sebagai salah satu bentuk kegiatan yang menunjang pada keterampilan hidup (life skill) yang berkaitan dengan kemempuan umum yang harus dimiliki setiap warga masyarakat, karena life skill itu lebih berfokus pada pengembangan kemampuan siswa untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial, dan keterampilan-keterampilan hidup lainnya dalam masyarakat.
d. Penemuan Terbimbing
Dalam menggunakan metode penemuan terbimbing, peranan guru adalah menyatakan persoalan, kemudian membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan lembar kerja. Siswa mengikuti petunjuk dan menemukan sendiri penyelesaiannya. Penemuan terbimbing biasanya dilakukan dengan bahan yang dikembangkan pembelajarannya secara induktif. Guru harus yakin benar bahwa bahan yang ditemukan sungguh secara matematis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
e. Pemecahan Masalah
Sebagian besar ahli pendidikan matematika mengatakan bahwa masalah merupakan pertanyaan yang harus dijawab atau direspon. Mereka menyatakan juga bahwa tidak semua pernyataan otomatis akan menjadi masalah. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh pelaku.
5. Taktik Pembelajaran
taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi
mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya,
yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki
sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense
of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia
memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak
keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan,
pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan.
Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu
sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan,
strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi
satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran.
BAB 3
BEBERAPA MODEL
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
- Model penemuan terbimbing
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut
Sund ”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan
sesuatu konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah mengamati, mencerna,
mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat
kesimpulan dan sebagainya (Roestiyah, 2001:20).
Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau iten pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan (Markaban, 2006:9).
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakn guru (PPPG, 2004:4).
Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing (Ali, 2004:87).
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model penemuan terbimbing adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan. Menurut Markaban (2006:11-15) Di dalam model penemuan ini, guru dapat menggunakan strategi penemuan yaitu secara induktif, deduktif atau keduanya
Dengan penjelasan diatas model penemuan yang dipandu oleh guru ini kemudian dikembangkan dalam suatu model pembelajaran yang sering disebut model pembelajaran dengan penemuan terbimbing. Pembelajaran model ini dapat diselenggarakan secara individu dan kelompok. Model ini sangat bermanfaat untuk mata pelajaran matematika sesuai dengan karakteristik matematika tersebut. Guru membimbing siswa jika diperlukan dan siswa didorong untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang disediakan oleh guru dan sampai seberapa jauh siswa dibimbing tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari (Markaban, 2006:15).
Peran guru dalam penemuan terbimbing sering diungkapkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS ini biasanya digunakan dalam memberikan bimbingan kepada siswa menemukan konsep atau terutama prinsip (rumus, sifat) (PPPG, 2003:4).
Perlu diingat bahwa model ini memerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan ’mengkonstuksi’ sendiri konsep atau pengetahuan tersebut (PPPG, 2004:5).
Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau iten pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan (Markaban, 2006:9).
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakn guru (PPPG, 2004:4).
Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing (Ali, 2004:87).
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model penemuan terbimbing adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan. Menurut Markaban (2006:11-15) Di dalam model penemuan ini, guru dapat menggunakan strategi penemuan yaitu secara induktif, deduktif atau keduanya
Dengan penjelasan diatas model penemuan yang dipandu oleh guru ini kemudian dikembangkan dalam suatu model pembelajaran yang sering disebut model pembelajaran dengan penemuan terbimbing. Pembelajaran model ini dapat diselenggarakan secara individu dan kelompok. Model ini sangat bermanfaat untuk mata pelajaran matematika sesuai dengan karakteristik matematika tersebut. Guru membimbing siswa jika diperlukan dan siswa didorong untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang disediakan oleh guru dan sampai seberapa jauh siswa dibimbing tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari (Markaban, 2006:15).
Peran guru dalam penemuan terbimbing sering diungkapkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS ini biasanya digunakan dalam memberikan bimbingan kepada siswa menemukan konsep atau terutama prinsip (rumus, sifat) (PPPG, 2003:4).
Perlu diingat bahwa model ini memerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan ’mengkonstuksi’ sendiri konsep atau pengetahuan tersebut (PPPG, 2004:5).
Sebagai
suatu metode pembelajaran dari sekian banyak metode pembelajaran yang ada,
penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator, guru membimbing siswa
jika diperlukan. Dalam metode ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri,
menganalisis sendiri, sehingga dapat ‘menemukan’ prinsip umum berdasarkan bahan
atau data yang telah disediakan guru. Sampai seberapa jauh siswa dibimbing,
tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari.
Dengan
metode ini, siswa dihadapkan kepada situasi untuk menyelidiki secara bebas dan
menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi, dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya
dianjurkan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan
ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk
mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru
akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam ‘menemukan’
pengetahuan yang baru tersebut. Metode ini memerlukan waktu yang relatif banyak
dalam pelak-sanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya
sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih
lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan
‘meng-konstruksi’ sendiri konsep atau pengetahuan tersebut. Metode ini bisa
dilakukan baik secara perseorangan maupun kelompok. Beberapa materi seperti
menemukan rumus luas lingkaran, dalil Phytagoras, volume tabung, dan sebagainya
sangat terbantu dalam menanamkan konsep matematika. Dengan metode Penemuan
Terbimbing guru bisa meminimalisir bentuk-bentuk ’pe-ngumuman’ saja dari rumus
tersebut, tetapi lebih pada upaya siswa yang diarahkan menemukan konsep itu
dibawah bimbingan guru.
Secara
sederhana, peran siswa dan guru dalam metode penemuan terbimbing ini dapat
digambarkan sebagai berikut.
Penemuan
Terbimbing
|
Peran
Guru
|
Peran
Siswa
|
Sedikit
bimbingan
|
-menyatakan
persoalan
|
-
menemukan pemecahan
|
Banyak
bimbingan
|
-menyatakan
persoalan
-memberikan
bimbingan
|
-
mengikuti petunjuk
-
menemukan penyelesaian
|
Agar
pelaksanaan Metode Penemuan Terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa
langkah yang mesti ditempuh oleh guru Matematika adalah sebagai berikut:
a.
Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.
Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir
sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b.
Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan
menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan
sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya me-ngarahkan siswa untuk
melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c.
Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d.
Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diperiksa
oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan
siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e.
Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka
verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan kepada siswa untuk me-nyusunnya. Di
samping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menja-min 100% kebenaran
konjektur.
f.
Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal
latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Menurut Markaban (2006:16) agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d. Bila dipandang perlu,konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk menyakinkan prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya.
f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari hendaknya guru menyediakn soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah penemuan itu benar.
Memperhatikan langkah-langkah model pembelajaran penemuan terbimbing diatas dapat disampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimlikinya.
Menurut Markaban (2006:16) agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d. Bila dipandang perlu,konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk menyakinkan prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya.
f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari hendaknya guru menyediakn soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah penemuan itu benar.
Memperhatikan langkah-langkah model pembelajaran penemuan terbimbing diatas dapat disampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimlikinya.
Kelebihan
model pembelajaran penemuan terbimbing adalah sebagai berikut :
a. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inguiry (mencari-temukan).
c. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
d. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa antar guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.
e. Lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya.
Sedangkan kekurangannya sebagai berikut :
a. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
b. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Dilapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah dimengerti dengan model ceramah.
c. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini.
- Model pemecahan masalah
A. Pengertian
Strategi belajar mengajar dengan model pembelajaran pemecahan masalah menekankan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar. Proses ini berlangsung secara bertahap, mulai dari menerima stimulus dari lingkungan sampai pada memberi respons yang tepat terhadap masalah yang ada.
B. Karakteristik Penyelesaian Masalah
Penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
- Penyelesaian masalah berdasarkan pengalaman masa lampau, dalam hal ini penyelesaian masalah kurang (tidak) rasional.
- Penyelesaian masalah secara intuitif, masalah diselesaikan tidak berdasarkan akal, tetapi berdasarkan intuisi atau firasat.
- Penyelesaian masalah dengan cara trial error, penyelesaian masalah dilakukan dengan coba-coba, percobaan yang dilakukan tidak berdasar hipotesis tetapi secara acak.
- Penyelesaian masalah secara otoritas. Penyelesaian masalah dilakukan berdasarkan kewenangan seseorang.
- Penyelesaian masalah secara meta fisik. Masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia empirik diselesaikan dengan prinsip-prinsip yang bersumber pada dunia supranatural/dunia mistik/dunia gaib.
- Penyelesaian masalah secara ilmiah ialah penyelesaian masalah secara rasional melalui proses deduksi dan induksi.
Penyelesaian
masalah dalam strategi belajar mengajar disini ialah penyelesaian masalah
secara ilmiah atau semi ilmiah. Guru memilih bahan pelajaran yang memiliki
permasalahan, materi pelajaran tidak terbatas hanya pada buku teks disekolah
tetapi dapat diambil dari sumber-sumber lingkungan yang ada. Pemilihan materi
seperti itu memerlukan beberapa kriteria sebagai berikut:
- Bahan yang dipilih bersifat conflict issue atau kontroversial. Bahan seperti itu dapat direkam dari peristiwa-peristiwa konkret dalam bentuk audo visual atau kliping atau disusun sendiri oleh guru.
- Bahan yang dipilih bersifat umum sehingga tidak terlalu asing bagi siswa
- Bahan tersebut mencakup kepentingan orang banyak dalam masyarakat
- Bahan tersebut mendukung tujuan pengajaran dan pokok bahasan dalam kurikulum sekolah
- Bahan tersebut merangsang perkembangan kelas yang mengarah pada tujuan yang dikehendaki
- Bahan tersebut menjamin kesinambungan pengalaman belajar siswa.
- Model pembelajaran kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara
siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif
memiliki ciri-ciri:
·
untuk memuntaskan materi belajarnya,
siswa belajar dalam kelompok secara bekerja sama
·
kelompok dibentuk dari siswa yang
memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
·
jika dalam kelas terdapat siswa-siswa
yang heterogen ras, suku, budaya, dan jenis kelamin, maka diupayakan agar tiap
kelompok terdapat keheterogenan tersebut.
·
penghargaan
lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
·
Hasil
belajar akademik , yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalm tugas-tugas
akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam
memahami konsep-konsep yang sulit.
·
Penerimaan
terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai
berbagai macam latar belakang.
·
Pengembangan
keterampilan social, yaitu untuk mengembangkan keterampilan social siswa
diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain,
memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam
kelompok.
Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif :
Fase
|
Indikator
|
Aktivitas Guru
|
1
|
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan
semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa
|
2
|
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan
informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
3
|
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok
belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi efisien
|
4
|
Membimbing
kelompok bekerja dan belajar
|
Guru membimbing
kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas
|
5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
|
6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau
hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok.
|
Beberapa kegiatan
kelompok yang dikemukakn oleh beberap ahli antara lain slavin(1985),lazarowitz
(1988),atau sharan (1990) antar lain sbagai berikut:
1. Circle of Learning
Belajar bersama ini dikemukaan Johnson
& Johnson pada tahun 1987
(Krismanto, 2000) dengan langkah-langkah
berikut.
a. Beberapa orang (5 – 6) dengan
kemampuan akademik yang bervariasi
(mixed abilities group) berkumpul
bersama.
b. Mereka saling berbagi pendapat dan
saling membantu dengan kewajiban
setiap anggota harus benar-benar
memahami jawaban atau penyelesaian
tugas yang diberikan kepada kelompok
tersebut.
c. Pertanyaan atau permintaan bantuan
kepada guru dilakukan hanya jika
mereka sudah benar-benar kehabisan akal.
Hal yang juga dianggap penting dalam
model ini adalah adanya saling
ketergantungan dalam arti positif,
adanya interaksi tatap muka di antara
anggota, keterlibatan anggota sangatlah
diperhitungkan, dan selain
menggunakan keterampilan pribadi juga
mengembangkan keterampilan
kelompok.
2. Grup Penyelidikan (Group
Investigation)
Grup Penyelidikan (Group
Investigation) digagas oleh Lazarowitz dkk, 1988
(Krismanto, 2000). Model ini menyiapkan
siswa dengan lingkup studi yang
luas dan berbagai pengalaman belajar
untuk memberikan tekanan pada
aktivitas positif siswa. Ada empat
karakteristik pada model ini.
a. Kelas dibagi ke dalam sejumlah
kelompok (grup).
b. Kelompok siswa dihadapkan pada
masalah dengan berbagai aspeknya
yang dapat meningkatkan daya
keingintahuan dan daya saling
ketergantungan positif di antara mereka.
c. Di dalam kelompok, siswa terlibat
dalam komunikasi aktif untuk
meningkatkan keterampilan cara belajar.
d. Guru bertindak selaku sumber belajar
dan pimpinan tak langsung,
memberikan arah dan klarifikasi hanya
jika diperlukan, dan menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif.
Siswa terlibat dalam setiap tahap
kegiatan:
a. mengidentifikasi topik dan
mengorganisasi diri dalam “kelompok
peneliti”,
b. merencanakan tugas-tugas yang harus
dipelajari,
c. melaksanakan investigasi,
d. menyiapkan laporan,
e. menyampaikan laporan akhir, dan
f. mengevaluasi proses dan hasil
kegiatan.
3. Co-op co-op
Kegiatan ini dikemukakan Kagan, 1985.a
(Krismanto, 2000). Seperti halnya
grup penyelidikan, Co-op co-op berorientasi
pada tugas pembelajaran yang
kompleks. Para siswa mengendalikan diri
mereka sendiri tentang apa dan
bagaimana mempelajari bahan yang
ditugaskan. Siswa dalam suatu tim
(kelompok) menyusun proyek yang dapat
membantu tim lain. Setiap siswa
mempunyai topik mini yang harus
diselesaikan dan setiap tim memberikan
kontribusi yang menunjang tercapainya
tujuan kelas. Struktur ini memerlukan
cara dan keterampilan bernalar yang
cukup tinggi, termasuk menganalisis dan
melakukan sintesis bahan yang
dipelajari. Langkahnya adalah:
a. diskusi kelas untuk seluruh siswa,
b. seleksi atau penyusunan tim siswa
untuk mempelajari atau menyelesaikan
tugas tertentu,
c. seleksi tim untuk memilih topik,
d. seleksi topik mini (oleh angota
kelompok di dalam kelompok/timnya oleh
mereka sendiri),
e. penyiapan topik mini, presentasi topik
mini, persiapan presentasi tim,
f. presentasi tim, dan
g. evaluasi oleh siswa dengan bimbingan
guru.
4. Jigsaw
Pertama kali dikembangkan oleh Aronson
dkk, 1978 (Krismanto, 2000).
Langkah-langkah pada model ini adalah
sebagai berikut.
a. Kelas dibagi menjadi beberapa
kelompok dengan 4 – 6 orang pada setiap
kelompok. Setiap kelompok oleh Aronson
dinamai kelompok jigsaw
(gigi gergaji). Pelajaran dibagi dalam
beberapa bagian sehingga setiap
siswa mempelajari salah satu bagian
pelajaran tersebut.
b. Semua siswa dengan bagian pelajaran
yang sama belajar bersama dalam
sebuah kelompok dan dikenal sebagai “counterpart
group” atau
Kelompok Ahli (KA).
c. Dalam setiap KA siswa berdiskusi dan
mengklarifikasi bahan pelajaran
dan menyusun sebuah rencana bagaimana
cara mereka mengajarkannya
kepada teman mereka sendiri.
d. Jika sudah siap, siswa kembali ke
kelompok jigsaw mereka, dan
mengajarkan bagian yang dipelajari
masing-masing kepada temannya
dalam kelompok jigsaw tersebut. Hal ini
memberikan kemungkinan
siswa terlibat aktif dalam diskusi dan
saling komunikasi baik di dalam
grup jigsaw maupun KA. Keterampilan
bekerja dan belajar secara
kooperatif dipelajari langsung di dalam
kegiatan pada kedua jenis
pengelompokan. Siswa juga diberikan
motivasi untuk selalu
mengevaluasi proses pembelajaran mereka.
5. Numbered Heads Together (NHT)
NHT digagas Kagan 1985. b (Krismanto,
2000) dengan tahap kegiatan
berikut.
a. Siswa dikelompokkan menjadi kelompok,
masing-masing 4 orang. Setiap
anggota diberi satu nomor 1, 2, 3, atau
4.
b. Guru menyampaikan pertanyaan atau
tugas.
c. Guru memberitahu siswa untuk berembug
sehingga setiap anggota tim
memahami jawaban tim. Guru menyebut
salah satu nomor dari 1, 2, 3,
atau 4, dan siswa dengan nomor yang
disebutkan guru yang harus
menjawab.
d. Tanggapan dari teman lainnya.
e. Kesimpulan
Setiap tim terdiri dari siswa yang
berkemampuan bervariasi: satu
berkemampuan tinggi, dua sedang, dan
satu rendah. Di sini ketergantungan
positif juga dikembangkan dan yang
kurang terbantu oleh yang lebih. Yang
berkemampuan tinggi bersedia membantu
meskipun mungkin mereka tidak
dipanggil untuk menjawab. Bantuan yang
diberikan dengan motivasi
tanggung jawab atau nama baik kelompok.
Yang paling lemah diharapkan
sangat antusias dalam memahami
permasalahan dan jawabannya karena
mereka merasa merekalah yang akan
ditunjuk guru untuk menjawab.
6. Team Assisted/ Accelarated
Instruction (TAI).
Slavin (1985) menyatakan (Krismanto,
2000) telah mengembangkan model
ini dengan beberapa alasan. Pertama,
model ini mengkombinasikan
keampuhan kooperatif dan program
pengajaran individual. Kedua, model ini
memberikan tekanan pada efek sosial dari
belajar kooperatif. Ketiga, TAI
disusun untuk memecahkan masalah dalam
program pengajaran, misalnya
dalam hal kesulitan belajar siswa secara
individual. Model ini juga
merupakan model kelompok berkemampuan
heterogen. Berikut ini
langkahnya.
a. Setiap siswa belajar pada aspek
khusus pembelajaran secara individual.
b. Anggota tim menggunakan lembar jawab
yang digunakan untuk saling
memeriksa jawaban teman satu tim, dan
semua bertanggung jawab atas
keseluruhan jawaban pada akhir kegiatan
sebagai tanggung jawab
bersama.
c. Diskusi terjadi pada saat siswa
saling mempertanyakan jawaban yang
dikerjakan teman satu timnya.
7.Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournaments (TGT)
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif
yang menempatkan siswa dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5
sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau
ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok
mereka masing – masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap
kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama – sama dengan anggota
kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas
yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk
memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut
kepada guru.
Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja – meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing – masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor – skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu.
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (geams), pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok ( team recognition). Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri – ciri sebagai berikut.
a) Siswa Bekerja Dalam Kelompok – Kelompok Kecil
Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja – meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing – masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor – skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu.
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (geams), pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok ( team recognition). Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri – ciri sebagai berikut.
a) Siswa Bekerja Dalam Kelompok – Kelompok Kecil
b)
Games Tournament
.
Kelebihan model pembelajaran kooperatif ini adalah:
·
Melatih sisiwa mengungkapkan atau menyampaikan
gagasan atau idenya
·
Melatih siswa untuk menghargai pendapat
atau gagasan orang lain
·
Menumbuhkan rasa tanggung jawab social
Sedangkan kekurangaannya antara lain:
·
Kadang hanya beberapa siswa yang aktif
dalam kelompok
·
Kendala teknis,misalnya masalah tempat
duduk kadang sulit atau kurang mendukung untuk diatur kegiatan kelompok
·
Agak memakan banyak waktu
8.student teams-achievment division (STAD)
Bagian esensial dari model ini adalah adanya
kerjasama anggota kelompok dan kompetensi dan kompetisi antar kelompok.Siswa
bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta ‘mengajar’ temannya
- Model pembelajaran kontekstual
Contextual teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran
yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penh ntuk dapat
menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan
nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
mereka.
Ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama CTL menekankan kepada proses
keterlibatan siswa untuk menemukan materi, kedua CTL mendorong agar siswa dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, ketiga mendorong siswa untuk dapat
menerapkan dalam kehidupan.
Terdapat lima
karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan
CTL.
- Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
- Pembelajaran untuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge)
- Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge)
- Mempraktikan pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knomledge)
- Melakukan refleksi (reflecting knowledge)
Bentuk Pembelajaran dalam Metode Kontekstual
1. Mengaitkan (Relating)
Dalam hal ini guru menggunakan strategi relating apabila ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jelasnya, mengkaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2. Mengalami (Experiencing)
Merupakan inti pembelajaran kontekstual dimana mengkaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya. Pembelajaran bisa terjadi dengan lebih cepat ketika siswa memanfaatkan (memanipulasi) peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan (Applying)
Ketika siswa menerapkan konsep dalam aktivitas belajar memecahkan masalahnya, guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistik dan relevan.
4. Kerja sama (Cooperating)
Siswa yang bekerja sama secara kelompok biasanya mudah mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan ketimbang siswa yang bekerja secara individual. Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan pembelajaran tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer (Transferring)
Fungsi dan peran guru dalam konteks ini adalah menciptakan bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalan
1. Mengaitkan (Relating)
Dalam hal ini guru menggunakan strategi relating apabila ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jelasnya, mengkaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2. Mengalami (Experiencing)
Merupakan inti pembelajaran kontekstual dimana mengkaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya. Pembelajaran bisa terjadi dengan lebih cepat ketika siswa memanfaatkan (memanipulasi) peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan (Applying)
Ketika siswa menerapkan konsep dalam aktivitas belajar memecahkan masalahnya, guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistik dan relevan.
4. Kerja sama (Cooperating)
Siswa yang bekerja sama secara kelompok biasanya mudah mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan ketimbang siswa yang bekerja secara individual. Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan pembelajaran tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer (Transferring)
Fungsi dan peran guru dalam konteks ini adalah menciptakan bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalan
Kelebihan dan Kelemahan
Suatu metode pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Demikian pula dengan metode pembelajaran kontekstual.
1. Kelebihan:
• Peserta didik mampu menghubungkan teori dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya.
• Peserta didik dilatih agar tidak tergantung pada menghapal materi
• Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam meghapdapi suatu permasalahan
• Melatih peserta didik untuk berani menyampaikan argumen, bertanya, serta menyampaikan hasil pemikiran
• Melatih kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
2. Kelemahan:
• Membutuhkan waktu lama dalam pelaksanaannya
• Membutuhkan banyak biaya
Suatu metode pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Demikian pula dengan metode pembelajaran kontekstual.
1. Kelebihan:
• Peserta didik mampu menghubungkan teori dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya.
• Peserta didik dilatih agar tidak tergantung pada menghapal materi
• Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam meghapdapi suatu permasalahan
• Melatih peserta didik untuk berani menyampaikan argumen, bertanya, serta menyampaikan hasil pemikiran
• Melatih kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
2. Kelemahan:
• Membutuhkan waktu lama dalam pelaksanaannya
• Membutuhkan banyak biaya
5. Missouri
mathematic project (MMP) . Metode Missouri Mathematics
Project (MMP)
Sebelum melihat MMP, ada baiknya kita mengingat
dahulu Struktur Pengajaran Matematika (SPM) karena antara MMP dan SPM hampir
sama.
Secara sederhana tahapan kegiatan dalam SPM adalah
sebagai berikut:
a. Pendahuluan (7’): apersepsi, revisi, motivasi,
introduksi.
b. Pengembangan (10’): pembelajaran konsep/prinsip.
c. Penerapan (23’): pelatihan penggunaan
konsep/prinsip, pengembangan, skill, evaluasi
d. Penutup (5’): penyusunan rangkuman, penugaan.
Adapun Metode MMP yang secara empiris melalui
penelitian, dikemas dalam struktur yang hampir sama dengan SPM dengan urutan
langkah adalah sebagai berikut (Winarno, 2000):
model Missouri Mathematics Project (MMP)
memuat 5 langkah berikut.
1. Pendahuluan
atau Review
a. Membahas PR
b. Meninjau ulang pelajaran lalu yang berkait
dengan materi baru
c. Membangkitkan motivasi
2.
Pengembangan
a. Penyajian ide baru sebagai perluasan konsep matematika
terdahulu
b. Penjelasan, diskusi demonstrasi dengan contoh
konkret yang sifatnya piktorial dan simbolik
3. Latihan Dengan Bimbingan Guru
a. Siswa merespon soal
b. Guru mengamati
c. Belajar kooperatif
4. Kerja Mandiri
Siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan
konsep pada langkah 2
5. Penutup
a. Siswa membuat rangkuman pelajaran, membuat
renungan tentang hal-hal baik yang sudah dilakukan serta hal-hal kurang baik
yang harus dihilangkan.
b. Memberi tugas PR.
Contohnya adalah sebagai berikut, yaitu untuk
topik memfaktorkan persamaan kuadrat.
1. Pendahuluan atau Review
a. Membahas PR, hal ini tergantung pada ada
tidaknya PR.
b. Meninjau ulang pelajaran lalu yang berkait
dengan materi baru.
Contohnya
dengan meminta siswa menjabarkan: (x+2)(x+3); (x−3)(x+3); (x)(x+3). Guru memantau pekerjaan siswa serta memperbaiki
kesalahan yang ada.
c. Membangkitkan motivasi, misalnya dengan
menyatakan bahwa pengetahuan memfaktorkan ini sangat sering digunakan dalam
kegiatan menggambar grafik fungsi kuadrat.
2. Pengembangan
a. Penyajian ide baru sebagai perluasan konsep
matematika terdahulu.
b. Penjelasan, diskusi demonstrasi dengan contoh
konkret yang sifatnya piktorial dan simbolik.
Alternatif langkahnya:
a. Minta
seorang siswa menjelaskan mengapa (x + 2)(x + 3) = x2 + 5x + 6?
Ajukan pertanyaan: ”Dari mana bilangan 6
didapat?”; serta ”Dari mana bilangan 5 didapat?”
b. Guru dapat membantu dengan diagram perkalian
suku dua.
c. Informasikan bahwa proses dari bentuk perkalian
diubah ke bentuk penjumlahan disebut menjabarkan; sedangkan proses kebalikannya
disebut memfaktorkan.
3. Latihan dengan bimbingan guru (siswa merespon
soal, guru mengamati dan membantu di mana perlu, siswa dapat berdiskusi dengan
teman lainnya).
Alternatifnya
a. Meminta
siswa memfaktorkan x2+7x+10; x2−7x+6; x2+9x; dan x2−25.
b. Guru berkeliling untuk memantau pekerjaan siswa
serta melakukan tanya jawab di mana perlu.
4. Kerja Mandiri
Siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan
konsep pada langkah 2.
5. Penutup
a. Siswa membuat rangkuman pelajaran, membuat
renungan tentang hal-hal baik yang sudah dilakukan serta hal-hal kurang baik
yang harus dihilangkan.
b. Memberi
tugas PR.
6. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Model pembelajaran adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) transformasi dan ketrampilan secara langsung; (2) pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu; (3) materi pembelajaran yang telah terstuktur; (4) lingkungan belajar yang telah terstruktur; dan (5) distruktur oleh guru. Guru berperan sebagai penyampai informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, tape recorder, gambar, peragaan, dan sebaganya. Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) atau pengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi). Kritik terhadap penggunaan model ini antara lain bahwa model ini tidak dapat digunakan setiap waktu dan tidak untuk semua tujuan pembelajaran dan semua siswa.
Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung
menurut Bruce dan Weil (1996), sebagai berikut:
§
Orientasi.
Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika
guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan
disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk
mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki
siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan
penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4) menginformasikan
materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama
pembelajaran; dan(5) menginformasikan kerangka pelajaran.
§
Presentasi.
Pada fase ini guru dapat menyajikan materi
pelajaran baik berupa konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat
berupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat
dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek;(2) pemberian contoh-contoh konsep;
(3) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau
penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas; dan (4) menjelaskan ulang
hal-hal yang sulit.
§
Latihan
terstruktur
Pada fase ini guru memandu siswa untuk
melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah
memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap
respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah.
§ Latihan terbimbing
Pada fase ini guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga
digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa untuk melakukan
tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan memberikan
bimbingan jika diperlukan.
§
Latihan mandiri
Pada fase ini
siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa
jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan
latihan.
. Latar Belakang Filosofi dan Psikologis
CTL
1. Latar belakang Filosofis
CTL banyak
dipengarhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin
dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat, bahwa sejak
kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan
“skema”. Skema terbentuk karena pengalaman, dan proses penyempurnaan skema itu
dinamakan asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin
sempurna yang kemudian disebut dengan proses akomodasi.
Pendapat Piaget
tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif
anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya
model pembelajaran kontekstual.. menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan
itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa.
2. Latar belakangPsikologis
Dipandang dari
sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran
ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar
bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. Belajar
melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan
kemampuan atau pengalaman.
Ada yang perlu
dipahami tentang pbelajar dalam konteks CTL.
- Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki
- Belajar bukan sekedar mengumnpulkan fakta yang lepas-lepas.
- Belajar adalah proses pemecahan masalah
- Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks
- Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.
C. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran
Konvensioanal
NO
|
Perbedaan
CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal
|
|
CTL
|
Pembelajaran Konvensional
|
|
1
|
Siswa sebagai subjek belajar
|
Siswa sebagai objek belajar
|
2.
|
Siswa belajar
melalui kegiatan kelompok
|
Siswa lebih
banyak belajar secara individu
|
3.
|
Pembelajaran
dikaitkan dengan kehidupan nyata
|
Pembelajaran
bersifat teoritis dan abstrak
|
4
|
Kemampuan didasarkan atas pengalaman
|
Kemampuan
diperoleh dari latihan-latihan
|
5
|
Tujuan akhir kepuasan diri
|
Tujuan akhir
nilai atau angka
|
6
|
Prilaku dibangun atas kesadaran
|
Prilaku dibangun oleh factor dari luar
|
7
|
Pengetahuan yang dimiliki individu berkembang
sesuai dengan pengalaman yang dialaminya
|
Pengetahuan yang
dimiliki bersifat absolute dan final, tidak mungkin berkembang.
|
8
|
Siswa bertanggungjawab dalam memonitor dan
mengembangkan pembelajaran
|
Guru penentu
jalannya proses pembelajaran
|
9
|
Pembelajaran bisa terjadi dimana saja
|
Pembelajaran
terjadi hanya di dalam kelas
|
10
|
Keberhasilan
pembelajaran dapat diukur dengan berbagai cara
|
Keberhasilan
pembelajaran hanya bisa diukur dengan tes
|
D. Peran Guru dan Siswa dalam CTL
Setiap siswa
mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa
tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Menurut Bobbi Deporter ada
tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tive visual, auditorial dan kinestis.
Tipe visual adalah
gaya belajar dengan cara melihat, sedang tipe auditorial adalah tipe belajar
dengan cara menggunakan alat pendengarannya, dan tipe kinestetis adalah tipe
belajar dengan cara bergerak.
Sehubungan dengan
hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru
manakala menggunakan pendekatan CTL.
1.
Siswa
harus dipandang sebagai individu yang sedang berkembang
2.
setiap
anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan
3.
belajar
bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal
yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui
4.
belajar
bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada.
E. Asas-Asas CTL
CTL sebagi suatu pendekatan pembelajaran memiliki
7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan CTL
1. Konstruktivisme
Adalah proses pembangunan baru dalam struktur
kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri
Adalah proses
pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir
secara sistematis. Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa langkah:
1. Merumuskan
masalah
2. Mengajukan
hipotesis
3. Mengumpulkan
data
4. Menguji
hipnotis berdasarkan data yang ditemukan
5. Membuat
kesimpulan
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab
pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap
individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam
berfikir.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya
akan sangat berguna untuk:
a)
menggali informasi dan kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran
b)
membangkitkan motvasi siswa untuk belajar
c)
merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuat
d)
memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan
e) membimbing siswa
untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community)
dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama
dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat dilakukan dengan menerapkan
pembelajaran melalui kelompok belajar.
5. Pemodelan (Modeling)
Merupakan proses pembelajarn dengan memperagakan
sesuatu sebagai conto yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6. Refleksi (Reflection)
Merupakan proses
pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara
mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah
dilalui.
1. 7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
F. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL
a. Pola Pembelajaran Konvensional
untuk mencapai
tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:
·
Siswa disuruh untuk membaca buku tentang
pasar
·
Guru menyampaikan materi pelajaran
·
Guru
memberikan kesempatan pada siswa untk bertanya
·
Guru
mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dan
dilanjutkan dengan kesimpulan
·
Guru melakukan post-tes
·
Guru
menugaskan kepada siswa untuk membuat karangan sesuai dengan tema “pasar”
Model pembelajaran
diatas jelas bahwa sepenhnya ada pada kendali guru.
b. Pola Pembelajaran CTL
untuk mencapai
tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:
1. Pendahuluan
2. Inti
3. Penutup
Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak
mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat
untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan
untuk saling membelajarkan. Untuk itu ada beberapa catatan dalam penerapan CTL
sebagai suatu strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. CTL
adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh,
baik fisik maupun mental.
2. CTL
memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam
kehidupan nyata.
3. Kelas
dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan
tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.
Materi pelajaran
ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain
BAB 4
KUMPULAN METODE
PEMBELAJARAN/ PENDAMPINGAN
CERAMAH

Pengertian
Metode ceramah yang dimaksud disini
adalah ceramah dengan kombinasi metode
yang bervariasi. Mengapa disebut
demikian, sebab ceramah dilakukan dengan
ditujukan sebagai pemicu terjadinya
kegiatan yang partisipatif (curah pendapat,
disko, pleno, penugasan, studi kasus,
dll). Selain itu, ceramah yang dimaksud disini
adalah ceramah yang cenderung
interaktif, yaitu melibatkan peserta melalui
adanya tanggapan balik atau perbandingan
dengan pendapat dan pengalaman
peserta. Media pendukung yang digunakan,
seperti bahan serahan (handouts),
transparansi yang ditayangkan dengan
OHP, bahan presentasi yang ditayangkan
dengan LCD, tulisan-tulisan di kartu
metaplan dan/kertas plano, dll.
DISKUSI UMUM (DISKUSI KELAS)

Pengertian
Metode ini bertujuan untuk tukar menukar
gagasan, pemikiran, informasi/
pengalaman diantara peserta, sehingga
dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran
(gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai
kesepakatan tersebut, para peserta
dapat saling beradu argumentasi untuk
meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan
pikiran inilah yang kemudian ditulis
sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya
digunakan sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari penerapan berbagai metode
lainnya, seperti: penjelasan (ceramah),
curah pendapat, diskusi kelompok,
permainan, dan lain-lain.
CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING)

Pengertian
Metode curah pendapat adalah suatu
bentuk diskusi dalam rangka menghimpun
gagasan, pendapat, informasi,
pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta.
Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan
dari seseorang dapat ditanggapi
(didukung, dilengkapi, dikurangi, atau
tidak disepakati) oleh peserta lain, pada
penggunaan metode curah pendapat
pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi.
Tujuan curah pendapat adalah untuk
membuat kompilasi (kumpulan) pendapat,
informasi, pengalaman semua peserta yang
sama atau berbeda. Hasilnya
kemudian dijadikan peta informasi, peta
pengalaman, atau peta gagasan (mindmap)
untuk menjadi pembelajaran bersama.
DISKUSI KELOMPOK

Pengertian
Sama seperti diskusi, diskusi kelompok
adalah pembahasan suatu topik dengan
cara tukar pikiran antara dua orang atau
lebih, dalam kelompok-kelompok kecil,
yang direncanakan untuk mencapai tujuan
tertentu. Metode ini dapat
membangun suasana saling menghargai
perbedaan pendapat dan juga
meningkatkan partisipasi peserta yang
masih belum banyak berbicara dalam
diskusi yang lebih luas. Tujuan
penggunaan metode ini adalah mengembangkan
kesamaan pendapat atau kesepakatan atau
mencari suatu rumusan terbaik
mengenai suatu persoalan.Setelah diskusi
kelompok, proses dilanjutkan dengan
diskusi pleno. Pleno adalah istilah yang
digunakan untuk diskusi kelas atau diskusi
umum yang merupakan lanjutan dari
diskusi kelompok yang dimulai dengan
pemaparan hasil diskusi kelompok.
BERMAIN PERAN
(ROLE-PLAY)

Pengertian
Bermain peran
pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peranperan
yang ada
dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam
kelas/pertemuan,
yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta
memberikan
penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun
kelemahan
masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/
alternatif
pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih
menekankan
terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada
kemampuan pemain
dalam melakukan permainan peran.
SIMULASI

Pengertian
Metode
simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk
mengembangkan
ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun
fisik/teknis).
Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam
kegiatan atau
ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek di
dalam situasi
yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek
penerbangan,
seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi
penerbangan
terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi
dalam
simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang
sebenarnya
(replikasi kenyataan).Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihan
fasilitasi,
seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akan
tengah
melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnya
berperan
sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalam
keseharian
peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalam
contoh yang
kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi
dalam
simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat
melakukan
suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan dilakukannya.
SANDIWARA
Pengertian

Metode
sandiwara seperti memindahkan ‘sepenggal cerita’ yang menyerupai
kisah nyata
atau situasi sehari-hari ke dalam pertunjukkan. Penggunaan metode ini
ditujukan
untuk mengembangkan diskusi dan analisa peristiwa (kasus). Tujuannya
adalah
sebagai media untuk memperlihatkan berbagai permasalahan pada suatu
tema (topik)
sebagai bahan refleksi dan analisis solusi penyelesaian masalah.
Dengan
begitu, rana penyadaran dan peningkatan kemampuan analisis
dikombinasikan
secara seimbang.
DEMONSTRASI

Pengertian
Demonstrasi
adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta
dengan cara
menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah
pengerjaan
sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada
peserta.
Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi
proses untuk
memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil untuk
memperlihatkan
atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya, setelah
demonstrasi
dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil,
peserta akan
memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat,
melakukan,
dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan
dengan
praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.
PRAKTEK
LAPANGAN

Pengertian
Metode
praktik lapangan bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan
peserta dalam
mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang
diperolehnya.
Kegiatan ini dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat
kerja, maupun
di masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalaman
nyata yang
diperoleh bisa langsung dirasakan oleh peserta, sehingga dapat
memicu
kemampuan peserta dalam mengembangkan kemampuannya. Sifat
metode
praktek adalah pengembangan keterampilan.
MPINGAN
PERMAINAN
(GAMES)

Pengertian
Permainan
(games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan
(ice-breaker)
atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah
‘pemecah es’.
Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi
kebekuan
fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk
membangun
suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme.
Karakteristik
permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
(fun) serta
serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan
suasana
belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh
menjadi riang
(segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai
secara
efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal
yang sulit
atau berat.Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses
belajar,
bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan.
Permainan
sebaiknya dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami
sendiri oleh
peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi
hikmah yang
mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah
perubahan
yang dipengaruhi adalah rana sikap-nilai.
BAB 5
CONTOH
RENCANA PEMBELAJARAN
Besaran dan satuan
Kelas : X
Waktu : 45 menit
Model Pembelajaran : CTL
Metode : Eksperimen
Standar kompetensi:
Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya
Kompetensi dasar:
Mengukur besaran fisika (massa, panjang, dan waktu).
Indikator:
1. Siswa membandingkan pengukuran massa dengan
indera dan neraca
2. Siswa mensimulasikan cara mengukur massa suatu
benda.
3. Siswa menemukan konsep massa.
4. Siswa menghitung massa jenis suatu benda.
Alat
dari kit guru:
Kit neraca
Bola dan balok
Botol air
Materi:
Massa dapat dimaknai dengan berbagai definisi,
bergantung pada proses pembelajarannya. Massa dapat didefinisikan sebagai
ukuran jumlah zat bila dalam proses pembelajarannya harus menunjukkan bahwa
dengan bertambahnya jumlah zat akan menambah massanya. Pendefinisian seperti
ini memberikan konsekuensi implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Orang membeli
bahan bakar gas (elpiji) diukur dengan cara ditimbang. Elpiji dalam sebuah
tabung dikatakan masih penuh bila massanya besar, sedangkan jika habis massanya
akan ringan. Inilah arti pentingnya mempelajari massa agar dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Persiapan
pembelajaran:
Sebelum masuk kelas, guru menyiapkan bola besi dan
balok kayu. Balok kayu dibuat sedikit lebih berat dibanding bola besi. Alat ini
digunakan untuk membangkitkan motivasi di awal pembelajaran.
Kegiatan
Pembelajaran:
Waktu
|
Peran
|
Perkembangan
Pembelajaran
|
Alat
bantu
|
5’
|
MM
MM
G
MM
G
MM
G
|
Pendahuluan
Siswa
diminta untuk mengobservasi bola dan balok kayu.
Hasil
observasi dilaporkan dan ditulis di papan tulis.
“Apakah yang anda rasakan pada tangan kanan dan kiri
sama? Apa bedanya?
Betulkah bola besi lebih berat dari pada balok kayu?”
Siswa diminta mengamati berat kedua benda yang
dibandingkan dengan neraca.
Apakah ada pertanyaan?
Mengapa ada perbedaan antara membandingkan massa kedua
benda menggunakan tangan dan neraca?
Manakah yang lebih tepat digunakan sebagai alat ukur
massa?
|
Bola besi dan balok kayu
|
35’
|
M
G
MM
MM
MM
MM
G
G
|
Penyusunan
Opini:
Siswa
diminta memberikan penjelasan mengukur massa dengan neraca.
Kegiatan
inti:
Kepada
siswa diberikan kit neraca dan air dalam botol.
1. Siswa diminta
merangkai neraca.
2. Siswa diminta
menimbang air yang volumenya 50 ml.
3. Siswa diminta
menimbang air yang volumenya 100 ml.
4. Siswa diminta
mencatat datanya.
5. Siswa diminta
memprediksikan massa air yang volumenya 150 ml dan 200 ml.
6. Siswa diminta
mengukur massa air yang volumenya 150ml dan 200 ml.
Diskusi:
Kegiatan
2:
1. Berdasarkan tabel
yang telah diperoleh, bagaimana hubungan antara massa dan volume air?
2. Digambar dalam
bentuk grafik (sumbu x volume, sumbu y massa), berapa gradiennya!
3. Gradien itu apa, gradien ini dinamakan massa jenis?
4. Siswa diminta
memformulasikan massa jenis
5. Siswa diajak
mendiskusikan makna massa jenis!
6. Siswa diajak
menghitung massa jenis suatu benda lain.
7. Massa suatu zat
adalah khas untuk zat itu, sehingga definisi massa diperbaiki!
Siswa diajak mengenal besaran-besaran
dasar yang lain selain massa.
Siswa diajak mengenal besaran volume,
yang diturunkan dari besaran pokok panjang.
Pemecahan masalah:
Setiap besaran
memiliki alat ukur. Besaran
terdiri atas besaran pokok dan besaran turunan.
Penerapan konsep:
Bagaimana cara
mengukur jumlah gas dalam tabung elpiji?
|
Kit
neraca, air dalam botol
|
5’
|
G
|
Kegiatan
Pemantapan:
Siswa
diminta menunjukkan alat ukur massa selain neraca yang ada di lingkungan
mereka. Siswa diminta mengidentifikasi alat-alat ukur besaran pokok lain yang
biasa digunakan di lingkungannya.
|
Keterangan:
MM
: Kegiatan utama dilakukan oleh murid-murid (diskusi murid-murid)
G
: Kegiatan utama dilakukan oleh guru
M
: Kegiatan dilakukan tanya jawab guru murid
Penilaian
Penugasan: Membuat deskripsi tentang kegiatan
pengukuran massa yang terjadi di pasar tradisional di lingkungannya.
Kriteria penilaian
No.
|
Aspek
|
Skor
|
Bobot
|
Skor Maksimal
|
1.
|
Kelengkapan:
|
|||
a. lengkap (data + gambar)
|
3
|
|||
b. agak lengkap (data)
|
2
|
5
|
15
|
|
c. kurang lengkap (gambar)
|
1
|
|||
2.
|
Kesesuaian:
|
|||
a. sesuai
|
3
|
|||
b. agak lengkap
|
2
|
5
|
15
|
|
c. tidak lengkap
|
1
|
Skore Nilai (Nilai perolehan x bobot) + (Nilai
perolehan x bobot) = 30
Skore Anak (Nilai perolehan x bobot) + (Nilai
perolehan x bobot) = 10
3
Penilaian kedua aspek dilakukan melalui Evaluasi
Keterampilan Proses Sains
Observasi
Tuliskan hasil pengamatan anda tentang bola besi dan
balok kayu dalam percobaan ini!
Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan apa saja yang ada dalam pikiranmu saat
mengamati hasil penimbangan bola besi dan balok kayu menggunakan neraca?
Merancang percobaan
Bagaimanakah prosedur merangkai kit neraca agar siap
digunakan untuk menimbang?
Mengkomunikasikan
Tuliskan data hasil pengamatanmu pada kertas yang
tersedia di meja masing-masing!
Prediksi
Berapa massa air jika volume air sebanyak 150 ml?
Interpretasi data
Apa yang terjadi bila jumlah air dalam wadah ditambah?
Inferensi (Kesimpulan sementara)
Berdasarkan data yang telah anda interpretasikan,
kesimpulan apakah yang dapat kalian temukan?
Kesimpulan
Setelah mengetahui massa jenis, apakah yang dimaksud
dengan massa itu?
Penilaian
aspek kognitif
Mengingat:
Faktor
apakah yang mempengaruhi besar kecilnya massa air?
Memahami:
Mengapa
pemanasan suatu benda dapat mengubah massa jenisnya?
Menerapkan:
Mengapa
saat membeli elpiji di toko kita harus menimbangnya lebih dahulu?
Menganalisis:
Mengapa
ikan di danau sekitar kutub masih tetap hidup meskipun danau tersebut tertutup
oleh es?
Menilai:
Benarkah konsep berikut ini, berikan alasan pendapat
anda! Meskipun besi yang dipanaskan akan muai, namun massa jenisnya tetap
karena pertambahan volume besi diikuti dengan pertambahan massa besi tersebut
Mencipta:
Bagaimanakah prosedur untuk menunjukkan bahwa benda
yang dipanaskan massanya tidak berubah?
Penilaian
aspek psikomotorik
Selama
siswa melakukan percobaan, guru menilai keterampilan kerja siswa
Penilaian
aspek apektif
Selama
siswa melakukan diskusi, dinilai ketekunannya, kerjasamanya, dan kepatuhannya
dalam melaksanakan tugas.
Pembahasan
Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dirancang ini
memenuhi hakekat CTL, antara lain:
- Konstruktivisme, siswa dihadapkan pada pengalaman kongkrit membandingkan massa dua benda yang diukur dengan tangan dan neraca. Berdasarkan hasil observasinya siswa dapat diajak untuk mengenali faktor yang mempengaruhi keadaan suatu benda.
- Tanya Jawab, kegiatan pembelajaran mulai dari pendahuluan, inti sampai dengan penutup selalu dilakukan tanya jawab antara guru dengan siswa. Pertanyaan dari guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru.
- Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipotesis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan. Definisi massa ditemukan oleh siswa selama proses pembelajaran melalui kegiatan ilmiah.
- Komunitas belajar, adalah komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, bekerja dengan masyarakat. Identitas MM diharapkan selama proses kegiatan pembelajaran guru tidak mendominasi kelas, tetapi Tanya jawab antar siswa antar kelompok siswa dapat berjalan lancer.
- Pemodelan, dalam pembelajaran ini, guru mendemontrasikan suatu kinerja (mengukur massa) agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn mengukur massa air yang volumenya sudah ditentukan lebih dahulu. Guru mengarahkan siswa supaya tidak melakukan hal yang sebaliknya yaitu memaksakan untuk mengisi air ke dalam suatu wadah agar massanya sebesar x gram. Ini dilakukan untuk memberikan contoh bekerja ilmiah yang benar, membedakan antara variabel bebas (mengisi air ke dalam suatu wadah) untuk mendaatkan variable terikat (massa air yang teramati melalui neraca.
- Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Dalam pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk membadingkan hasil pembelajaran ini dengan fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (membeli elpiji). Siswa yang sudah memahami konsep massa, akan meminta penjual menimbang elpiji sebelum dibawa pulang, tidak hanya percaya dengan segel yang ada pada tabung gas.
- Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. RPP ini dilengkapi dengan instrumen penilaian yang menyeluruh, mulai dari saat melakukan kegiatan pembelajaran sampai dengan setelah pembelajaran itu selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar