EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
VALIDITAS
Dosen pengampu :
Dra. Hj. Aty Nurdiana, M.Pd.
KELOMPOK V
DEA NINDRIA
IMANSARI 11130032
DIAN IKA SEPTINA 11130038
WELLY NEVIRA
11130210
KELAS:
MIPA V A
![]() |
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2012/2013
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2012/2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas
kehadiran Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan cukup baik. Di dalam makalah ini kami akan menjelaskan
macam-macam validitas, cara mengukur alat validitas dan beberapa hal tentang
validitas
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Ibu Dra. Hj. Aty
Nurdiana
selaku dosen pembimbing mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika.
Demikian makalah ini kami selesaikan semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembacanya serta dapat menjadi referensi bagi mahasiswa lain yang
ingin menulis materi ini lebih lanjut. Dan dengan tangan terbuka kami menerima
kritik dan saran agar makalah ini lebih dapat terkonsep dari yang sebelumnya.
Bandar lampung,Oktober 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman Judul ........................................................................
Kata Pengantar
............................................................................... ii
Daftar Isi ......................................................................................... iii
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Validitas logis ........................................................................................................ 2
2.1.1
Validitas
isi (content validity).................................................................. ......... 2
2.1.2
Validitas
Konstruksi (Contruct validity)............................................................. 3
2.2 Validitas Tes secara Empiris.................................................................................... 4
2.2.1
Validitas
Ramalan (Predictive Validity)............................................................... 4
2.2.2
Validitas Bandingan / “ada sekarang” (concurrent validity)................................ 5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.2
Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan,evaluasi dalam
pendidikan sangat diperlukan, evaluasi dibutuhkan instrumen atau alat ukur.
validitas adalah salah satu instrumen untuk mengetahui cocok , atau tepatnya
suatu tes pada evaluasi karena dengan
melakukan evaluasi seseorang dapat mengetahui hasil belajar yang telah dicapai.
Validitas dilakukan untuk mengetahui
kecocokan atau ketepatan suatu hasil tes yang mempengaruhi hasil belajar
peserta didik sehingga para peneliti
dapat menarik kesimpulan mana yang dapat mempengaruhi hasil belajar dengan baik
1.2
Tujuan
Tujuan dalam makalah ini, kita dapat :
1.
Mengetahui macam-macam validitas.
2. Mengetahui dan memahami cara mengukur validitas alat ukur.
3. Mengetahui dan memahami validitas butir soal atau validitas item.
4. Mengetahui dan memahami tes terstandar sebagai kriterium dalam
menentukan validitas.
5.
Mengetahui validitas faktor.
BAB
II
PEMBAHASAN
VALIDITAS
Validitas
adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan
suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas
tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas
rendah (Suharsimi Arikunto 2006).
3. Macam -Macam Validitas
Ada dua
jenis validitas yaitu:
3.1
Validitas logis
Validitas logis mengandung kata
logis yang berasal dari kata logika, yang berarti penalaran, dengan demikian
makna validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi nenunjukkan pada kondisi
sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid sebagai hasil penalaran. Sementara
itu validitas logis terbagi menjadi 2 yaitu validitas isi, validitas konstrak,.
3.1.1
Validitas isi (content
validity)
Yaitu pengujian terhadap isi yang terkandung
dalam tes hasil belajar tersebut. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila
mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran
yang diberikan.
Validitas
isi merupakan validitas yang diperhitungkan melalui pengujian
terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional. Pertanyaan yang dicari
jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauh mana item-item dalam suatu alat
ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur oleh alat ukur
yang bersangkutan?” atau berhubungan dengan representasi dari keseluruhan
kawasan.
Pengertian
“mencakup keseluruhan kawasan isi” tidak saja menunjukkan bahwa alat ukur
tersebut harus komprehensif isinya akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang
relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur.
Walaupun
isi atau kandungannya komprehensif tetapi bila suatu alat ukur mengikutsertakan
pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan
ukurnya, maka validitas alat ukur tersebut tidak dapat dikatakan memenuhi ciri
validitas yang sesungguhnya.Apakah validitas isi sebagaimana dimaksudkan itu
telah dicapai oleh alat ukur, sebanyak tergantung pada penilaian subjektif
individu. Dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan komputerisasi
statistik, melainkan hanya dengan analisis rasional maka tidak diharapkan bahwa
setiap orang akan sependapat dan sepaham dengan sejauhmana validitas isi suatu
alat ukur telah tercapai.
Validitas isi dapat diusahakan tercapainya
sejak saat penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum atau meteri buku
pelajaran. Yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil
belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif
terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang harus diuji.
3.1.2
Validitas Konstruksi (Contruct
validity)
Secara etimologis, kata kontruksi mengandung
arti susunan, kerangka atau rekaan. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas
kontruksi apabila butir- butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap
aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam Tujuan Instruksional Khusus.
Pengujian
validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan
perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi
validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas.
Dengan kata lain jika butir- butir soal
mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang
menjadi tujuan instruksional.
Sebagai contoh jika rumusan Tujuan
Instruksional Khusus (TIK), “Siswa dapat mengenal tata cara memandikan mayat”,
maka butir soal pada tes merupakan perintah bagaimana cara memandikan mayat
dengan baik.
3.2
Validitas Tes secara Empiris
Istilah “Validitas empiris” memuat kata
“empiris” yang artinya “pengalaman” sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki
validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Yang dimaksud dengan
validitas empiris adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis
yang bersifat empirik. Sedangkan menurut Ebel bahwa Empirical
Validity adalah
validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria.
Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin
diramalkan oleh pengukuran.
Jadi empirical validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan
suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan
apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran. Bertitik tolak dari itu maka tes
hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empirik apabila
berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan
dilapangan, terbukti bahwa tes hasil belajar itu dengan secara tepat telah
dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes
hasil belajar tersebut.
Untuk menentukan apakah tes hasil belajar
sudah memiliki validitas empirik ataukah belum dapat dilakukan penelusuran dari
dua segi, yaitu segi daya ketepatan meramal (prediktif validity), dan daya
ketepatan bandingannya (concurren validity).
Validitas empiris dibagi menjadi:
3.2.1
Validitas Ramalan (Predictive
Validity)
Setiap kali kita menyebutkan istilah “ramalan”
maka didalamnya akan terkandung pengertian mengenai “sesuatu yang bakal terjadi
masa yang akan datang “ atau sesuatu yang pada saat sekarang belum terjadi dan
baru akan terjadi pada waktu-waktu yang akan datang. Apabila istilah ramalan
dikaitkan dengan validitas tes maka yang dimaksut dengan validitas ramalan dari
suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes
telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa
yang bakal terjadi pada masa yang akan datang.
Menurut Suharsimi meprediksi artinya meramal,
dengan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi sekarang belum
terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan
apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi masa yang
akan datang.
Jadi pada dasarnya tes yang dilakukan adalah
dengan memberikan bentuk soal, item dan sarat yang diberikan harus memiliki
tujuan akhir yang akan ditempuh sehingga proses atau hasil yang dicapai dapat
diprediksi sebelumnya.
3.2.2
Validitas
Bandingan / “ada sekarang” (concurrent validity)
Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki
validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan
secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah antara tes
pertama dengan tes berikutnya. Menurut Suharsimi dalam hal ini tes
dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah
lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada.
Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah :
validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas ada sekarang.
Dikatakan sama saat sebab validitas tes itu ditentukan atas dasar data hasil
tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu yang sama. Dikatakan
validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas dasar
pengalaman yang telah diperoleh. Adapun dikatakan sebagai validitas ada
sekarang sebab setiap kali kita menyebut istilah pengalaman maka istilah itu
akan selalu kita kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah
terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa yang lalu
itu pada saat ini sudah ada di tanggan.
Jadi dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang
mencerminkan pengalaman yang diperoleh masa yang lalu itu, kita bandingkan
dengan data hasil tes yang diperoleh sekarang ini. Jika hasil tes yang ada
sekarang ini mempunyai hubungan searah dengan hasil tes berdasarkan pengalaman
yang lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti itu dapat dikatakan
telah memiliki validitas bandingan.
Misalnya seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang
disusun sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu
yang sekarang datanya dimiliki. Misalnya nilai ulangan harian atau nilai
ulkangan sumatif yang lalu.
4.
Cara Mengetahui Validitas Alat Ukur
Sebuah tes dikatakan memiliki
validitas jika hasil nya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki
kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan
untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan
oleh Pearson.
Rumus kolerasi product moment
ada 2 macam, yaitu:
4.1
Kolerasi product moment dengan
simpangan
Menggunakan rumus :
rxy = 

di mana:
rxy = koefisien korelasi antara variabel
X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan
( x = X -
dan y = Y -
)
x2
=kuadrat dari x
y2
= kuadrat dari y
Contoh perhitungan:
Misalnya akan menghitung validitas tes
presentasi belajar matematika. Sebagai kriterium diambil rata-rata ulangan yang
akan dicari validitasnya diberi kode X dan rata-rata nilai harian diberi kode
Y. Kemudian dibuat tabel persiapan sebagai berikut.
TABEL PERSIAPAN UNTUK MENCARI
VALIDITAS TES PRESENTASI MATEMATIKA
|
NO.
|
NAMA
|
X
|
Y
|
x
|
y
|
X2
|
Y2
|
Xy
|
|
1.
|
Nadia
|
6.5
|
6,3
|
0
|
-0,1
|
0,0
|
0,01
|
0,0
|
|
2.
|
Susi
|
7
|
6,8
|
+ 0,5
|
+0,4
|
0,25
|
0,16
|
+0,2
|
|
3.
|
Cecep
|
7,5
|
7,2
|
+ 1,0
|
+0,8
|
1,0
|
0,64
|
+0,8
|
|
4.
|
Erna
|
7
|
6,8
|
+ 0,5
|
+0,4
|
0,25
|
0,16
|
+0,2
|
|
5.
|
Dian
|
6
|
7
|
-0,5
|
+0,6
|
0,25
|
0,36
|
-0,3
|
|
6.
|
Asmara
|
6
|
6,2
|
-0,5
|
-0,2
|
0,25
|
0,04
|
+0,1
|
|
7.
|
Siswoyo
|
5,5
|
5,1
|
-1,0
|
-1,3
|
1,0
|
1,69
|
+1,3
|
|
8.
|
Jihad
|
6,5
|
6
|
0
|
-0,4
|
0,0
|
0,16
|
0,0
|
|
9.
|
Yanna
|
7
|
6,5
|
+0,5
|
+0,1
|
0,25
|
0,01
|
+0,05
|
|
10.
|
Lina
|
6
|
5,9
|
-0,5
|
-0,6
|
0,25
|
0,36
|
+0,3
|
|
|
Jumlah
|
65,0
|
63,8
|
|
|
3,5
|
3,59
|
2,65
|
x = X - 
y = Y - 
dimasukkan kerumus
rxy = 

=
= 
= 
Indeks korelasi antara X dan Y inilah indeks validitas soal yang
dicari.
4.2 Kolerasi product moment dengan dengan angka kasar
Dimana rxy = koefisien kolerasi antara
variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan
Dengan menggunakan data hasil
tes presentasi matematika di atas kini dihitung dengan rumus korelasi product
moment dengan angka kasar yang tabel persiapannya sebagai berikut.
|
No.
|
Nama
|
X
|
Y
|
X2
|
Y2
|
XY
|
|
1.
|
Nadia
|
6.5
|
6,3
|
42,25
|
39,69
|
40,95
|
|
2.
|
Susi
|
7
|
6,8
|
49
|
46,24
|
47,6
|
|
3.
|
Cecep
|
7,5
|
7,2
|
56,25
|
51,84
|
54,0
|
|
4.
|
Erna
|
7
|
6,8
|
49
|
46,24
|
47,6
|
|
5.
|
Dian
|
6
|
7
|
36
|
49
|
42
|
|
6.
|
Asmara
|
6
|
6,2
|
36
|
38,44
|
37,2
|
|
7.
|
Siswoyo
|
5,5
|
5,1
|
30,25
|
26,01
|
28,05
|
|
8.
|
Jihad
|
6,5
|
6
|
42,25
|
45,5
|
39
|
|
9.
|
yanna
|
7
|
6,5
|
49
|
36
|
45,5
|
|
10.
|
Lina
|
6
|
5,9
|
36
|
34,81
|
35,4
|
|
|
Jumlah
|
65,0
|
63,8
|
426,0
|
410,52
|
417,3
|
Dimasukkan kedalam rumus:
rxy = 

= 

=
= 
=
= 0,745
Untuk memperjelas dapat
disampaikan keterangan sebagai berikut:
i.
Korelasi positif menunjukkan
adanya hubungan sejajar antara dua hal. Misalnya, hal pertama nilainya naik,
hal kedua ikut naik. Sebaliknya jika hal pertama turun, yang ke dua ikut turun.
Contoh: korelasi positif antara
nilai IPA dan MATEMATIKA.
IPA :
2, 3, 5, 7, 4, 3, 2
Matematika : 4, 5, 6, 8, 5, 4, 3
Kondisi nilai matematika sejajar dengan IPA karena naik dan
turunnya nilai matematika mengikuti naik dan turunnya nilai IPA.
Coba perhatikan !
ii.
Korelasi negatif menunjukkan
adanya hubungan kebalikan antaradua hal. Misalnya, hal pertama nilainya, justru
yang kedua turun. Sebalik nya jika yang pertama turun yang kedua naik.
Contoh korelasi negatif antara nilai Bahasa Indonesia dengan
matematika.
Bahasa Indonesia : 5, 6, 8, 4, 3, 2
Matematika : 8, 7, 5, 1, 2, 3
Keadaan hubungan antara dua hal yang kita jumpai dalam kehidupan
sehar-hari tidak selalu hanya positif atau negatif saja, tetapi mungkin 0.
Besarnya korelasi pun tidak menentu. Coba cermatilah bagai mana hubungan antara
dua nilai mata pelajaran A dan B berikut ini.
Contoh korelasi tidak tertentu.
Nilai A : 5, 6, 4, 7, 3, 8, 7
Nilai B : 4, 4, 3, 7, 4, 9, 4
Keadaan kedua nilai tersebut jika dihitung dengan rumus korelasi
mungkin positifmungkin negatif. Coba hitunglah!
Koefisien korelasi selalu terdapat antara -1,00 sampai +1,00.
Namun karena dalam menghitung sering dilakukan pembulatan angka-angka, sangat
mungkin diperoleh koefisien lebih dari 1,00. Koefisien negatif menunjukkan
hubungan kebalikan sedangkan koefisien positif menunjukkan adanya kesejajaran
untuk mengadakan interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi adalah
sebagai berikut:
→ Antara 0,800 sampai dengan 1,00 :sangat
tinngi
→ Antara 0,600 sampai dengan 0,800 :tinggi
→ Antara 0,400 sampai dengan 0,600 :cukup
→ Antara 0,200 sampai dengan 0,400 :rendah
→ Antara 0,00 sampai dengan 0,200 :sangat
rendah
Penafsiran harga koefisien korelasi ada 2 (dua) cara, yaitu:
1.
Dengan melihat harga r dan diinterpretasikan misalnya
korelasi tinngi, cukup, dan sebagainya.
2.
Dengan berkonsultasi ke tabel
harga kritik r product moment
sehingga dapat diketahui signifikan tidak nya korelasi tersebut. jika harga r lebih kecil dari harga kritik dalam
tabel, maka korelasi tersebut tidak signifikan. Begitu jga arti sebaliknya.
5.
Validitas Butir Soal Atau Validitas Item
Mencari validitas soal perlu juga dicari validitas Item. Validitas item
adalah sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar
terhadap skor total. Sebuah item memiliki validitas yang tinggi jika skor pada
item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran dapat diartikan
dengan korelasi sehingga untuk mengetahui validitas item digunakan rumus
korelasi.
Untuk soal-soal bentuk objektif skor untuk item bisa di berikan dengan
1 (bagi item yang dianggap benar) dan 0 (item yang di jawab salah). Sedangkan
skor total selanjutnya merupakan jumlah dari skor untuk semua item yang
membangun soal tersebut.
Contoh perhitungan:
TABEL
ANALISIS ITEM UNTUK PERHITUNGAN VALIDITAS ITEM
|
No.
|
Nama
|
Butir soal / item
|
Skor total
|
|||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|||
|
1.
|
Hartati
|
1
|
0
|
1
|
0
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
8
|
|
2.
|
Yoyok
|
0
|
0
|
1
|
0
|
1
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
5
|
|
3.
|
Oktaf
|
0
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
1
|
0
|
1
|
4
|
|
4.
|
Wendi
|
1
|
1
|
0
|
0
|
1
|
0
|
0
|
0
|
1
|
0
|
5
|
|
5.
|
Diana
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6
|
|
6.
|
Paul
|
1
|
0
|
1
|
0
|
1
|
1
|
1
|
0
|
0
|
0
|
4
|
|
7.
|
Susana
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
0
|
0
|
0
|
7
|
|
8.
|
Helen
|
0
|
1
|
0
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
8
|
Misalnya,
akan dihitung validitas item nomor 6, maka skor item tersebut variabel X dan
skor total disebut variabel Y. Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan
menggunakan rumus kolerasi product moment,
baik dengan rumus simpangan maupun rumus angka kasar.
Contoh perhitungan mencari
validitas item
Untuk
menghitung validitas item nomor 6, dibuat terlebih dahulu tabel persiapan nya
sebagai berikut.
TABEL
PERSIAPAN UNTUK MENGHITUNG VALIDITS
ITEM NOMOR 6
|
No.
|
Nama
|
X
|
Y
|
|
1.
|
Hartati
|
1
|
8
|
|
2.
|
Yoyok
|
0
|
5
|
|
3.
|
Oktaf
|
1
|
3
|
|
4.
|
Wendi
|
1
|
5
|
|
5.
|
Diana
|
1
|
6
|
|
6.
|
Paul
|
0
|
4
|
|
7.
|
Susana
|
1
|
7
|
|
8.
|
Helen
|
1
|
8
|
Keterangan:
X =
skor item nomor 6
Y =
skor total
Dari
perhitungan kalkulator diperoleh data sebagai berikut:
Dari
datadimasukkan kedalam rumus kolerasi product moment dengan angka kasar sebagai
berikut:
rxy = 

= 

=
= 
=
= 0,421
Masih ada cara-cara lain untuk menghitung
validitas item. Salah satu cara yang terkenal adalah menggunakan rumus ypb;
yang rumus lengkapnya adalah sebagai berikut:
Ypbi
=

Keterangan:
Ypbi = koefisien korelasi biserial
Mp
= rerata skor dari dari subjek yang menjawab betul bagi item yang
dicari validitasnya.
Mt
= rerata skor total
St
= standar deviasi dari skor total proporsi
P =
proporsi siswa yang menjawab benar

q =
proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1-p)
Apabila item 6 tersebut dicari validitasnya
dengan rumus ini maka perhitungan nya melalaui langkah sebagai berikut:
1.
Mencari MP =
=
= 6,17
2.
Mencari Mt = 
3.
dari kalkulator diperoleh harga
standar deviasi, yaitu σn = 1,7139 atau
n – 1 = 1,8323. Untuk n kecil,
diambil standar deviasi yang σn = 1,7139.
4.
Menentukan harga p, yaitu
= 0,17
5.
Menentukan harga q, yaitu
atau
1 – 0,75 = 0,25
6.
Masukkan kerumus ypbi
Ypbi =

= 

=
= 1,7321
= 0,
4244
Dari perhitungan validitas item
6 dengan 2 cara ternyata hasilnya berbeda tetapi sangat kecil yaitu 0,0034.
Mungkin hal ini disebab kan karena ada nya pembulatan angka.
6.
Tes Terstandar Sebagai Kriterium dalam Menentukan Validitas
Tes standar adalah tes yang
telah dicobakan berkali-kali sehingga dapat dijamin kebaikannya.
Dinegara-negara berkembang biasa nya tersedia tes semacam ini, dan dikenal
dengan nama standardized test. Cara
menentukan validitas soal yang menggunakan tes terstandar sebagai kriterium
dilakukan dengan mengalikan koefisien validitas yang di peroleh dengan
koefisien validitas tes terstandar tersebut.
Contoh perhitungan:
TABEL PERSIAPAN PERHITUNGAN VALIDITAS TES MATEMATIKA
DENGAN KRITERIUM TES TERSTANDAR MATEMATIKA
|
No.
|
Nama
|
X
|
Y
|
X2
|
Y2
|
XY
|
Keterangan
|
|
1.
|
Nining
|
5
|
7
|
25
|
49
|
35
|
X = hasil tes matematika yang
dicari validitasnya
Y = hasil tes standar
|
|
2.
|
Maruti
|
6
|
6
|
36
|
36
|
36
|
|
|
3.
|
Bambang
|
5
|
6
|
25
|
36
|
30
|
|
|
4.
|
Seno
|
6
|
7
|
36
|
49
|
42
|
|
|
5.
|
Hartini
|
7
|
7
|
49
|
49
|
49
|
|
|
6.
|
Heru
|
6
|
5
|
36
|
25
|
30
|
Dimasukkan
kedalam rumus korelasi product moment
dengan angka kasar sebagai berikut:
rxy = 

= 

=
= 
=
= 0,108
jika dari tes terstandar diketahui bahwa validitasnya 0,89 maka
bilangan 0,108 ini belum merupakan validitas soal matematika yang dicari.
Validitas tersebut harus dikalikan dengan 0,89 yang hasilnya 0,108 x 0,89 =
0,096.
7.
Validitas Faktor
Selain validitas soal secara keseluruhan dan validitas butir atau item
masih ada lagi yang perlu diketahui
yaitu faktor-faktor atau bagian keseluruhan materi. Setiap mater
pembelajaran terdiri dari pokok-pokok bahasan atau mungkin sekelompok pokok
bahasan yang merupakan satu kesatuan.
Contoh:
Guru akan mengevaluasi penguasaan siswa untuk tiga pokok bahasan, yaitu
bunyi, cahaya, dan listrik. Untuk keperluan ini guru tersebut membuat 30 butir
soal, untuk bunyi 8 butir, untuk cahaya 12 butir, dan untuk listrik 10 butir.
Apabila guru ingin mengetahui validitas vaktor, maka ada 3 faktor dalam
soal. Seperti halnya pengertian validitas butir, pengertian validitas faktor
adalah sebaai gai berikut: butir-butir soal pada faktur dikatakan valid apabila
mempunyai dukungan yang besar terhadap soal-soal secara keseluruhan.
Sudah dijelaskan bahwa butir-butir soal faktor dikatakan valid apabila
menunjukkan kesejajaran skor dengan skor total. Cara mengetahui kesejajaran
tersebut digunakan juga rumus korelasi product
moment. Misalnya, kita akan mengetahui validitas vaktor 1, yakni soal-soal
untuk materi bunyi, kita membuat daftar untuk menyejajarkan kedua skor tersebut
sebagai berikut.
TABEL
UNTUK MENGHITUNG KESEJAJARAN SKOR FAKTOR 1
DENGAN
SKOR TOTAL
|
Nama subjek
|
Skor faktor 1 (X)
|
Skor total (Y)
|
X2
|
Y2
|
XY
|
|
Amir
|
6
|
19
|
36
|
361
|
114
|
|
Hasan
|
7
|
25
|
49
|
625
|
175
|
|
Ninda
|
4
|
17
|
16
|
289
|
68
|
|
Warih
|
3
|
12
|
9
|
144
|
36
|
|
Irzal
|
8
|
29
|
64
|
841
|
232
|
|
Gandi
|
6
|
23
|
36
|
529
|
138
|
|
Santo
|
5
|
19
|
25
|
361
|
95
|
|
Tini
|
7
|
26
|
49
|
676
|
182
|
|
Yanti
|
5
|
16
|
25
|
256
|
80
|
|
Hamid
|
4
|
15
|
16
|
25
|
60
|
|
Dedi
|
7
|
26
|
49
|
676
|
182
|
|
Desi
|
8
|
30
|
64
|
900
|
240
|
|
Wahyu
|
5
|
20
|
24
|
400
|
100
|
|
Jumlah
|
…
|
…
|
…
|
…
|
…
|
Data yang tertera didalam tabel tersebut digunakan untuk menentukan
besarnya validitas faktor 1. Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan setiap
kolom, kemudian dimasukkan kedalam rumus korelasi product moment. Harga r yang
diperoleh menunjukkan indeks validitas 1. Untuk vaktor 2 dan faktor 3 caranya
sama, hanya skor faktornya saja yang diganti.
BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Dalam melakukan evaluasi
pendidikan diperlukan intrument , salah satunya validitas atau kecocokan, Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai
validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki
validitas rendah.
Validitas dibagi menjadi
2 yaitu ;
v
validitas logis
·
validitas isi
·
validitas konstrak
v
validitas empiris
·
validitas pembanding
·
valditas ramalan
-
dan cara mengetagui instrumen alat ukur yaitu dengan :
ü korelasi product moment
dengan simpangan
ü korelasi product moment
dengan angka kasar.
didalam validitas juga dibahas validitas butir soal
atau validitas item , tes terstandar sebagai kriterium dalam menentukan
validitas, dan validitas faktor.
DAFTAR PUSTAKA
Sudijono,
Anas. (1995). Pengantar Evaluasi
Pendidikan. Yogyakarta : Raja Grafindo
Persada.
Arikunto,
S. (2012). Dasar – dasar Evaluasi
Pendidikan Edisi 2. Jakarta : Bumi Aksara.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar