Senin, 28 Oktober 2013

validitas


EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
VALIDITAS
Dosen pengampu : Dra. Hj. Aty Nurdiana, M.Pd.

KELOMPOK V
DEA NINDRIA IMANSARI                  11130032
DIAN IKA SEPTINA                             11130038
WELLY NEVIRA                                 11130210

KELAS:
MIPA V A
 






SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2012/2013










KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan cukup baik. Di dalam makalah ini kami akan menjelaskan macam-macam validitas, cara mengukur alat validitas dan beberapa hal tentang validitas

Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Ibu Dra. Hj. Aty Nurdiana selaku dosen  pembimbing mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika.

Demikian makalah ini kami selesaikan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya serta dapat menjadi referensi bagi mahasiswa lain yang ingin menulis materi ini lebih lanjut. Dan dengan tangan terbuka kami menerima kritik dan saran agar makalah ini lebih dapat terkonsep dari yang sebelumnya.



Bandar lampung,Oktober 2013


Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................
Kata Pengantar ............................................................................... ii
Daftar Isi ......................................................................................... iii
BAB IPENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang ...................................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1   Validitas logis ........................................................................................................ 2
2.1.1          Validitas isi (content validity).................................................................. ......... 2
2.1.2          Validitas Konstruksi (Contruct validity)............................................................. 3
2.2   Validitas Tes secara Empiris.................................................................................... 4
2.2.1          Validitas Ramalan (Predictive Validity)............................................................... 4
2.2.2          Validitas Bandingan / “ada sekarang” (concurrent validity)................................ 5
BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan........................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.2     Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan,evaluasi dalam pendidikan sangat diperlukan, evaluasi dibutuhkan instrumen atau alat ukur. validitas adalah salah satu instrumen untuk mengetahui cocok , atau tepatnya suatu  tes pada evaluasi karena dengan melakukan evaluasi seseorang dapat mengetahui hasil belajar yang telah dicapai.
Validitas dilakukan untuk mengetahui kecocokan atau ketepatan suatu hasil tes yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik  sehingga para peneliti dapat menarik kesimpulan mana yang dapat mempengaruhi hasil belajar dengan baik

1.2 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini, kita dapat :
1.       Mengetahui macam-macam validitas.
2.       Mengetahui dan memahami cara mengukur validitas alat ukur.
3.       Mengetahui dan memahami validitas butir soal atau validitas item.
4.       Mengetahui dan memahami tes terstandar sebagai kriterium dalam menentukan validitas.
5.       Mengetahui validitas faktor.












BAB II
PEMBAHASAN


 VALIDITAS


Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Suharsimi Arikunto 2006).
3.       Macam -Macam Validitas
Ada dua jenis validitas yaitu:
3.1   Validitas logis
Validitas logis mengandung kata logis yang berasal dari kata logika, yang berarti penalaran, dengan demikian makna validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi nenunjukkan pada kondisi sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid sebagai hasil penalaran. Sementara itu validitas logis terbagi menjadi 2 yaitu validitas isi, validitas konstrak,.
3.1.1          Validitas isi (content validity)
Yaitu pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. 
Validitas isi merupakan validitas yang diperhitungkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauh mana item-item dalam suatu alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur oleh alat ukur yang bersangkutan?” atau berhubungan dengan representasi dari keseluruhan kawasan.
Pengertian “mencakup keseluruhan kawasan isi” tidak saja menunjukkan bahwa alat ukur tersebut harus komprehensif isinya akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur.

Walaupun isi atau kandungannya komprehensif tetapi bila suatu alat ukur mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan ukurnya, maka validitas alat ukur tersebut tidak dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang sesungguhnya.Apakah validitas isi sebagaimana dimaksudkan itu telah dicapai oleh alat ukur, sebanyak tergantung pada penilaian subjektif individu. Dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan komputerisasi statistik, melainkan hanya dengan analisis rasional maka tidak diharapkan bahwa setiap orang akan sependapat dan sepaham dengan sejauhmana validitas isi suatu alat ukur telah tercapai.
Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum atau meteri buku pelajaran. Yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang harus diuji.

3.1.2          Validitas Konstruksi (Contruct validity)
Secara etimologis, kata kontruksi mengandung arti susunan, kerangka atau rekaan. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas kontruksi apabila butir- butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam Tujuan Instruksional Khusus.
Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas.
Dengan kata lain jika butir- butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.
Sebagai contoh jika rumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK), “Siswa dapat mengenal tata cara memandikan mayat”, maka butir soal pada tes merupakan perintah bagaimana cara memandikan mayat dengan baik.

3.2   Validitas Tes secara Empiris
Istilah “Validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman” sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Yang dimaksud dengan validitas empiris adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Sedangkan menurut Ebel bahwa Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran.
Jadi empirical validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran. Bertitik tolak dari itu maka tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empirik apabila berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan dilapangan, terbukti bahwa tes hasil belajar itu dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes hasil belajar tersebut.
Untuk menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empirik ataukah belum dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu segi daya ketepatan meramal (prediktif validity), dan daya ketepatan bandingannya (concurren validity).
Validitas empiris dibagi menjadi:
3.2.1          Validitas Ramalan (Predictive Validity)
Setiap kali kita menyebutkan istilah “ramalan” maka didalamnya akan terkandung pengertian mengenai “sesuatu yang bakal terjadi masa yang akan datang “ atau sesuatu yang pada saat sekarang belum terjadi dan baru akan terjadi pada waktu-waktu yang akan datang. Apabila istilah ramalan dikaitkan dengan validitas tes maka yang dimaksut dengan validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang.

Menurut Suharsimi meprediksi artinya meramal, dengan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi sekarang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi masa yang akan datang.
Jadi pada dasarnya tes yang dilakukan adalah dengan memberikan bentuk soal, item dan sarat yang diberikan harus memiliki tujuan akhir yang akan ditempuh sehingga proses atau hasil yang dicapai dapat diprediksi sebelumnya.
3.2.2          Validitas Bandingan / “ada sekarang” (concurrent validity)
Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah antara tes pertama dengan tes berikutnya.  Menurut Suharsimi dalam hal ini tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada.

Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah : validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas ada sekarang. Dikatakan sama saat sebab validitas tes itu ditentukan atas dasar data hasil tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu yang sama. Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas dasar pengalaman yang telah diperoleh. Adapun dikatakan sebagai validitas ada sekarang sebab setiap kali kita menyebut istilah pengalaman maka istilah itu akan selalu kita kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa yang lalu itu pada saat ini sudah ada di tanggan.

Jadi dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh masa yang lalu itu, kita bandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh sekarang ini. Jika hasil tes yang ada sekarang ini mempunyai hubungan searah dengan hasil tes berdasarkan pengalaman yang lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti itu dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan.

Misalnya seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dimiliki. Misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulkangan sumatif yang lalu.

4.       Cara Mengetahui Validitas Alat Ukur
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasil nya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson.
Rumus kolerasi product moment ada 2 macam, yaitu:
4.1   Kolerasi product moment dengan simpangan
                Menggunakan rumus :
                rxy =
di mana:
rxy           = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan
                  (  x = X -  dan y = Y - )
     = jumlah perkalian x dan y
x2         =kuadrat dari x
y2            = kuadrat dari y
Contoh perhitungan:
Misalnya akan menghitung validitas tes presentasi belajar matematika. Sebagai kriterium diambil rata-rata ulangan yang akan dicari validitasnya diberi kode X dan rata-rata nilai harian diberi kode Y. Kemudian dibuat tabel persiapan sebagai berikut.

TABEL PERSIAPAN UNTUK MENCARI VALIDITAS TES PRESENTASI MATEMATIKA
NO.
NAMA
X
Y
x
y
X2
Y2
Xy
1.        
Nadia
6.5
6,3
0
-0,1
0,0
0,01
0,0
2.        
Susi
7
6,8
+ 0,5
+0,4
0,25
0,16
+0,2
3.        
Cecep
7,5
7,2
+ 1,0
+0,8
1,0
0,64
+0,8
4.        
Erna
7
6,8
+ 0,5
+0,4
0,25
0,16
+0,2
5.        
Dian
6
7
-0,5
+0,6
0,25
0,36
-0,3
6.        
Asmara
6
6,2
-0,5
-0,2
0,25
0,04
+0,1
7.        
Siswoyo
5,5
5,1
-1,0
-1,3
1,0
1,69
+1,3
8.        
Jihad
6,5
6
0
-0,4
0,0
0,16
0,0
9.        
Yanna
7
6,5
+0,5
+0,1
0,25
0,01
+0,05
10.    
Lina
6
5,9
-0,5
-0,6
0,25
0,36
+0,3

Jumlah
65,0
63,8


3,5
3,59
2,65





 =  =  = 6,5

 =  =  = 6,38 dibulatkan 6,4

x = X -
y = Y -

dimasukkan kerumus

        rxy =

               =  =

=
Indeks korelasi antara X dan Y inilah indeks validitas soal yang dicari.

4.2   Kolerasi product moment dengan dengan angka kasar
http://adekusnadi.files.wordpress.com/2012/10/rumus-korelasi.png?w=630 
Dimana rxy = koefisien kolerasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang                                        dikorelasikan
Dengan menggunakan data hasil tes presentasi matematika di atas kini dihitung dengan rumus korelasi product moment dengan angka kasar yang tabel persiapannya sebagai berikut.
No.
Nama
X
Y
X2
Y2
XY
1.        
Nadia
6.5
6,3
42,25
39,69
40,95
2.        
Susi
7
6,8
49
46,24
47,6
3.        
Cecep
7,5
7,2
56,25
51,84
54,0
4.        
Erna
7
6,8
49
46,24
47,6
5.        
Dian
6
7
36
49
42
6.        
Asmara
6
6,2
36
38,44
37,2
7.        
Siswoyo
5,5
5,1
30,25
26,01
28,05
8.        
Jihad
6,5
6
42,25
45,5
39
9.        
yanna
7
6,5
49
36
45,5
10.    
Lina
6
5,9
36
34,81
35,4

Jumlah
65,0
63,8
426,0
410,52
417,3
Dimasukkan kedalam rumus:
http://adekusnadi.files.wordpress.com/2012/10/rumus-korelasi.png?w=630
rxy =
=
=  =
=  = 0,745
Untuk memperjelas dapat disampaikan keterangan sebagai berikut:
         i.            Korelasi positif menunjukkan adanya hubungan sejajar antara dua hal. Misalnya, hal pertama nilainya naik, hal kedua ikut naik. Sebaliknya jika hal pertama turun, yang ke dua ikut turun.
Contoh: korelasi positif antara nilai IPA dan MATEMATIKA.
IPA                         : 2,          3,            5,            7,            4,            3,            2
Matematika       : 4,          5,           6,            8,            5,            4,            3
Kondisi nilai matematika sejajar dengan IPA karena naik dan turunnya nilai matematika mengikuti naik dan turunnya nilai IPA.
Coba perhatikan !
       ii.            Korelasi negatif menunjukkan adanya hubungan kebalikan antaradua hal. Misalnya, hal pertama nilainya, justru yang kedua turun. Sebalik nya jika yang pertama turun yang kedua naik.
Contoh korelasi negatif antara nilai Bahasa Indonesia dengan matematika.
Bahasa Indonesia : 5,                      6,            8,            4,            3,            2
Matematika            : 8,                     7,            5,            1,            2,            3
Keadaan hubungan antara dua hal yang kita jumpai dalam kehidupan sehar-hari tidak selalu hanya positif atau negatif saja, tetapi mungkin 0. Besarnya korelasi pun tidak menentu. Coba cermatilah bagai mana hubungan antara dua nilai mata pelajaran A dan B berikut ini.
Contoh korelasi tidak tertentu.
Nilai A : 5,            6,            4,            7,            3,            8,            7
Nilai B : 4,             4,            3,            7,            4,            9,            4
Keadaan kedua nilai tersebut jika dihitung dengan rumus korelasi mungkin positifmungkin negatif. Coba hitunglah!
Koefisien korelasi selalu terdapat antara -1,00 sampai +1,00. Namun karena dalam menghitung sering dilakukan pembulatan angka-angka, sangat mungkin diperoleh koefisien lebih dari 1,00. Koefisien negatif menunjukkan hubungan kebalikan sedangkan koefisien positif menunjukkan adanya kesejajaran untuk mengadakan interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut:
     Antara 0,800 sampai dengan 1,00              :sangat tinngi
     Antara 0,600 sampai dengan 0,800           :tinggi
     Antara 0,400 sampai dengan 0,600           :cukup
     Antara 0,200 sampai dengan 0,400           :rendah
     Antara 0,00 sampai dengan 0,200              :sangat rendah
Penafsiran harga koefisien korelasi ada 2 (dua) cara, yaitu:
1.       Dengan melihat harga r dan diinterpretasikan misalnya korelasi tinngi, cukup, dan sebagainya.
2.       Dengan berkonsultasi ke tabel harga kritik r product moment sehingga dapat diketahui signifikan tidak nya korelasi tersebut. jika harga r lebih kecil dari harga kritik dalam tabel, maka korelasi tersebut tidak signifikan. Begitu jga arti sebaliknya.
5.       Validitas Butir Soal Atau Validitas Item
Mencari validitas soal perlu juga dicari validitas Item. Validitas item adalah sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Sebuah item memiliki validitas yang tinggi jika skor pada item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran dapat diartikan dengan korelasi sehingga untuk mengetahui validitas item digunakan rumus korelasi.
Untuk soal-soal bentuk objektif skor untuk item bisa di berikan dengan 1 (bagi item yang dianggap benar) dan 0 (item yang di jawab salah). Sedangkan skor total selanjutnya merupakan jumlah dari skor untuk semua item yang membangun soal tersebut.
Contoh perhitungan:
                                                                                                TABEL ANALISIS ITEM UNTUK PERHITUNGAN VALIDITAS ITEM
No.
Nama
Butir soal / item
Skor total
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1.
Hartati
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
8
2.
Yoyok
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1
5
3.
Oktaf
0
1
0
0
0
0
0
1
0
1
4
4.
Wendi
1
1
0
0
1
0
0
0
1
0
5
5.
Diana
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
6
6.
Paul
1
0
1
0
1
1
1
0
0
0
4
7.
Susana
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
7
8.
Helen
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
8

Misalnya, akan dihitung validitas item nomor 6, maka skor item tersebut variabel X dan skor total disebut variabel Y. Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus kolerasi product moment, baik dengan rumus simpangan maupun rumus angka kasar.

Contoh perhitungan mencari validitas item
Untuk menghitung validitas item nomor 6, dibuat terlebih dahulu tabel persiapan nya sebagai berikut.
TABEL PERSIAPAN UNTUK MENGHITUNG VALIDITS
 ITEM NOMOR 6
No.
Nama
X
Y
1.
Hartati
1
8
2.
Yoyok
0
5
3.
Oktaf
1
3
4.
Wendi
1
5
5.
Diana
1
6
6.
Paul
0
4
7.
Susana
1
7
8.
Helen
1
8


Keterangan:
X = skor item nomor 6
Y = skor total
Dari perhitungan kalkulator diperoleh data sebagai berikut:
 = 6                                                   = 6
 = 46                                                                = 288
 = 37                                                             p =  = 37
 = 5,57x                                                            q =  = 5,57
 = 6,17y
Dari datadimasukkan kedalam rumus kolerasi product moment dengan angka kasar sebagai berikut:
http://adekusnadi.files.wordpress.com/2012/10/rumus-korelasi.png?w=630
rxy  = 
=
=  =
=  = 0,421
Masih ada cara-cara lain untuk menghitung validitas item. Salah satu cara yang terkenal adalah menggunakan rumus ypb; yang rumus lengkapnya adalah sebagai berikut:

                Ypbi =  
Keterangan:
Ypbi = koefisien korelasi biserial
Mp   = rerata skor dari dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya.
Mt   = rerata skor total
St   = standar deviasi dari skor total proporsi
P    = proporsi siswa yang menjawab benar

q    = proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1-p)

Apabila item 6 tersebut dicari validitasnya dengan rumus ini maka perhitungan nya melalaui langkah sebagai berikut:
1.       Mencari MP = =  = 6,17
2.       Mencari Mt  =
3.       dari kalkulator diperoleh harga standar deviasi, yaitu σn = 1,7139 atau n – 1 = 1,8323. Untuk n kecil, diambil standar deviasi yang σn = 1,7139.
4.       Menentukan harga p, yaitu  = 0,17
5.       Menentukan harga q, yaitu  atau 1 – 0,75 = 0,25
6.       Masukkan kerumus ypbi
          Ypbi =  
                   =
                        =  = 1,7321
                        = 0, 4244
Dari perhitungan validitas item 6 dengan 2 cara ternyata hasilnya berbeda tetapi sangat kecil yaitu 0,0034. Mungkin hal ini disebab kan karena ada nya pembulatan angka.

6.       Tes Terstandar Sebagai Kriterium dalam Menentukan Validitas
Tes standar adalah tes yang telah dicobakan berkali-kali sehingga dapat dijamin kebaikannya. Dinegara-negara berkembang biasa nya tersedia tes semacam ini, dan dikenal dengan nama standardized test. Cara menentukan validitas soal yang menggunakan tes terstandar sebagai kriterium dilakukan dengan mengalikan koefisien validitas yang di peroleh dengan koefisien validitas tes terstandar tersebut.
Contoh perhitungan:
TABEL PERSIAPAN PERHITUNGAN VALIDITAS TES MATEMATIKA
DENGAN KRITERIUM TES TERSTANDAR MATEMATIKA
No.
Nama
X
Y
X2
Y2
XY
Keterangan
1.
Nining
5
7
25
49
35
X = hasil tes matematika yang dicari validitasnya
Y = hasil tes standar
2.
Maruti
6
6
36
36
36
3.
Bambang
5
6
25
36
30
4.
Seno
6
7
36
49
42
5.
Hartini
7
7
49
49
49
6.
Heru
6
5
36
25
30

Dimasukkan kedalam rumus korelasi product moment dengan angka kasar sebagai berikut:
http://adekusnadi.files.wordpress.com/2012/10/rumus-korelasi.png?w=630
rxy  =
     =
=  =
=  = 0,108
jika dari tes terstandar diketahui bahwa validitasnya 0,89 maka bilangan 0,108 ini belum merupakan validitas soal matematika yang dicari. Validitas tersebut harus dikalikan dengan 0,89 yang hasilnya 0,108 x 0,89 = 0,096.  
7.       Validitas Faktor
Selain validitas soal secara keseluruhan dan validitas butir atau item masih ada lagi yang perlu diketahui  yaitu faktor-faktor atau bagian keseluruhan materi. Setiap mater pembelajaran terdiri dari pokok-pokok bahasan atau mungkin sekelompok pokok bahasan yang merupakan satu kesatuan.
Contoh:
Guru akan mengevaluasi penguasaan siswa untuk tiga pokok bahasan, yaitu bunyi, cahaya, dan listrik. Untuk keperluan ini guru tersebut membuat 30 butir soal, untuk bunyi 8 butir, untuk cahaya 12 butir, dan untuk listrik 10 butir.
Apabila guru ingin mengetahui validitas vaktor, maka ada 3 faktor dalam soal. Seperti halnya pengertian validitas butir, pengertian validitas faktor adalah sebaai gai berikut: butir-butir soal pada faktur dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap soal-soal secara keseluruhan.



































Sudah dijelaskan bahwa butir-butir soal faktor dikatakan valid apabila menunjukkan kesejajaran skor dengan skor total. Cara mengetahui kesejajaran tersebut digunakan juga rumus korelasi product moment. Misalnya, kita akan mengetahui validitas vaktor 1, yakni soal-soal untuk materi bunyi, kita membuat daftar untuk menyejajarkan kedua skor tersebut sebagai berikut.
TABEL UNTUK MENGHITUNG KESEJAJARAN SKOR FAKTOR 1
DENGAN SKOR TOTAL
Nama subjek
Skor faktor 1 (X)
Skor total (Y)
X2
Y2
XY
Amir
6
19
36
361
114
Hasan
7
25
49
625
175
Ninda
4
17
16
289
68
Warih
3
12
9
144
36
Irzal
8
29
64
841
232
Gandi
6
23
36
529
138
Santo
5
19
25
361
95
Tini
7
26
49
676
182
Yanti
5
16
25
256
80
Hamid
4
15
16
25
60
Dedi
7
26
49
676
182
Desi
8
30
64
900
240
Wahyu
5
20
24
400
100
Jumlah
Data yang tertera didalam tabel tersebut digunakan untuk menentukan besarnya validitas faktor 1. Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan setiap kolom, kemudian dimasukkan kedalam rumus korelasi product moment. Harga r yang diperoleh menunjukkan indeks validitas 1. Untuk vaktor 2 dan faktor 3 caranya sama, hanya skor faktornya saja yang diganti.

























BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Dalam melakukan evaluasi pendidikan diperlukan intrument , salah satunya validitas atau kecocokan, Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.

Validitas dibagi menjadi 2 yaitu ;
v  validitas logis
·         validitas isi
·         validitas konstrak
v  validitas empiris
·         validitas pembanding
·         valditas ramalan
-          dan cara mengetagui instrumen alat ukur yaitu dengan :
ü  korelasi product moment dengan simpangan
ü  korelasi product moment dengan angka kasar.
didalam validitas juga dibahas validitas butir soal atau validitas item , tes terstandar sebagai kriterium dalam menentukan validitas, dan validitas faktor.

DAFTAR PUSTAKA

Sudijono, Anas. (1995). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta : Raja           Grafindo Persada.

Arikunto, S. (2012). Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jakarta : Bumi     Aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar